Bone purba awalnya hanya seluas 4 kilometer persegi berada dalam wilayah kerajaan Wawenriu zaman Lagaligo sekitar abad ke-10 (901-1000). Abad ke-10 adalah abad yang berlangsung sejak 901 Masehi hingga 1000 Masehi.

Sedang kata Bone sendiri merupakan bahasa Bugis kuno yang berarti pasir. Kerena sesuai kondisi wilayah saat itu, tanahnya berwarna seperti tumpukan pasir kekuning-kuningan.

Meskipun wilayah Bone pada saat itu tidak berpasir tapi karena kondisi tanahnya seperti warna pasir kekuning-kuningan itulah sebabnya maka dinamakan Bone adalah kata kias kondisi tanahnya. Jadi Bone dimaknai sebagai suatu tempat yang berada diketinggian dari wilayah sekitanya.

Berdasarkan penelusuran Jejak Kota Tua Bone, ternyata Bone mengalami sebanyak beberapa kali pergantian nama ibukota sejak abad ke-10 M. sampai sekarang ini.

Dalam catatan sejarah, kerajaan Bone berdiri pada abad ke-13 yakni pada tahun 1330 dengan nama rajanya Manurungnge. Namun, sebelum kerajaan Bone berdiri sudah ada kelompok-kelompok masyarakat yang disenamakan Kalula. Setiap Kalula dipimpin oleh seorang Ponggawa Kalula (pemimpin kelompok).

Kelompok-kelompok masyarakat itu berada dalam wilayah kerajaan Wawenriu zaman Lagaligo sekitar abad ke-10 M. Namun beberapa catatan mengatakan kalau Kerajaan Wawenriu, telah ada sebelum tahun 400 Masehi sekitar abad ke-4 M.

Pada awal berdirinya kerajaan Bone tahun 1330 yang dipimpin oleh Manurungnge maka ibukota kerajaan dinamakan KAWERANG. Ada 7 Kalula yang selanjutnya disebut WANUA bergabung manjadi persekutuan, yaitu Wanua Ponceng, Wanua Tanete Riattang, Wanua Tanete Riawang, Wanua Ta, Wanua Macege, Wanua Ujung, dan Wanua Tibojong.

Ketujuh wanua ini bersatu dalam PANJI WORONGPORONGNGE, merupakan Bendera BINTANG TUJUH yang menandakan Tujuh Negeri di bawah kepemimpinan Raja Bone pertama Manurungnge yang bergelar Mattasi Lompoe yakni Penguasa, Penjaga Laut, dan tanah.

Namun, awal terbentuk kerajaan Bone ada beberapa Kalula atau Wanua yang tidak bergabung dan cukup disegani pada waktu itu diantaranya Kalula atau Wanua Biru, Cellu, dan Majang. Sedang Kalula Bukaka atau Ciung masuk dalam wialayah wanua Tanete Riawang.

Seiring dalam perkembangannya, Kerajaan Bone ini mulai membangun wilayahnya dengan ibukota KAWERANG sebagai pusat pemerintahan. Kawerang berada dalam wilayah wanua Tanete Riattang.

Perkembangan selanjutnya, pada masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote-e (1535-1560) ia mendirikan BENTENG KOTA sekaligus ia sebagai peletak sistem perkotaan yang tangguh sebagai kota yang mandiri dan modern pada zamannya.

La Uliyo Bote-e dikenal cerdas, pandai, dan cermat dalam perencanaan. Pada masa ia berkuasa didampingi seorang penasihat yang dikenal Lamellong dengan julukan Kajao Laliddong.

Pada masa itu Kajao Laliddong dipercayakan oleh La Uliyo Bote-e mengarsiteki sekaligus pimpinan proyek dalam pembangunan kolosal membangun benteng Kota. Sehingga ada ungkapan cerita rakyat Bone yang mengatakan CICENGMI NARENRENG TEKKENGNA KAJAO LALLIDDONG NATEPUI BENTENGNGE (satu kali saja diseret tongkat Kajao Lalliddong maka jadilah benteng).

Dalam penelusuran Jejak Kota Tua Bone dijelaskan, bahwa Benteng dalam bahasa Bugis dinamakan LALEBBATA. Benteng terbuat dari tanah liat yang diambil dari bukit Bukaka. Benteng ini rata-rata tingginya 5 meter. Tebal dindingnya kurang lebih 2 meter dan tebal pondasi 15 meter. Sepanjang dinding luar benteng ditanami pohon bambu dan berbagai jenis pohon berfungsi untuk menahan dan mengikat tanah benteng.

Teknik pembangunan benteng tidak memakai alat perekat tetapi teknik sederhana yaitu SUSUN TIMBUN dengan mengikuti kontur tanah. Bukan terbuat dari batu merah atau dinding dari batu gunung yang sudah dipahat. Walau ada sebagian benteng memakai batu utamanya dibagian pintu keluar.

Bentuk benteng ini awalnya segi empat panjang. Kemudian Raja berikutnya melakukan penambahan tinggi benteng dan dindingnya dipertebal oleh Raja Bone Bone Ke-7 Latenrirawe Bongkangnge.

Atas usulan Kajao Lalliddong, dengan selesainya proyek Benteng Kota, maka ibukota kerajaan Bone yang sebelumnya dinamakan KAWERANG diganti dengan nama LALEBBATA sekaligus sebagai pusat pemerintahan kerajaan Bone. Itulah ikhwal nama Kota KAWERANG berubah menjadi LALEBBATA.

Dan penamaan LALEBBATA sebagai ibukota kerajaan Bone berakhir tahun 1905 ketika Belanda menyerbu Kerajaan Bone yang dikenal RUMPA’NA BONE (Bobolnya Kerajaan Bone).

Tentara Belanda menaklukkan Bone tahun 1905 yang pada masa itu Bone dipimpin oleh La Pawawoi Karaeng Sigeri sebagai Raja Bone ke-31 yang memerintah tahun 1895-1905.

Jadi sejak tahun 1905-1931, Bone mengalami kekosongan pemerintahan selama 26 tahun. Meskipun Belanda menguasai Bone tetapi Ade Pitu tetap melaksanakan aktivitas pemerintahan atas izin Belanda.

Berdasarkan hasil musyawarah antara Belanda dan Ade Pitu yang dilaksanakan di Bola Subbie (Gedung Perpustakaan Daerah Sekarang), maka pada tanggal 24 Agustus 1905 LALEBBAT berubah nama menjadi WATAMPONE.

Sedang Bola Subbie adalah Istana Raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri. Pada masa itu Istana Bola Subbie yang berukir dan besar menghadap TAMAN KERAJAAN atau sekarang TAMAN ARUNG PALAKKA. Kemudian Istana ini dipindahkan ke Makassar dan berdiri di depan Karebosi sebagai tanda penaklukan Bone.

Selanjutnya Istana BOLA SUBBIE atas permintaan rakyat Bone dikembalikan ke Bone pada tahun 1922. Tetapi sayangnya Istana Bola SubbiE tidak utuh lagi dan tiangnya banyak yang patah. Sehingga kalau kita mengunjungi Gedung Perpustakaan Kabupaten Bone sekarang ini yang terletak di Jalan Merdeka Watampone, maka Anda melihat Rumah Duduk atau Bola Meppo. Padahal sebelum pindah ke Makassar rumah atau bekas istana Raja Bone ini mempunyai tiang.

Itulah catatan sejarah tentang pergantian nama ibukota kerajaan Bone sampai saat ini. Dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Sebelum kerajaan Bone berdiri sudah ada kelompok-kelompok masyarakat yang disebut Kalula
2. Ibukota Kerajaan Bone yang pertama dinamakan KAWERANG atas prakarsa Raja Bone ke-1 Manurungnge tahun 1330 M
3. Ibukota Kerajaan Bone yang kedua dinamakan LALEBBATA atas usulan Lamellong Kajao Lalliddong yang disetujui Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote-e tahun 1535
4. Ibukota Kerajaan Bone yang ketiga dinamakan WATAMPONE Berdasarkan hasil musyawarah antara Belanda dan Ade Pitu yang dilaksanakan di Bola Subbie (Gedung Perpustakaan Daerah Sekarang), pada tanggal 24 Agustus 1905.

Terima Kasih, Semoga bermamfaat

Oleh : Mursalim

BAGIKAN