Suku Bugis memiliki karya sastra yang telah mendunia, La Galigo. Ironisnya, naskah kuno yang berisi konsep kehidupan masyarakat Bugis ini tidak begitu dikenal di tanah air, bahkan di tanah Bugis sendiri. Di kalangan masyarakat Bugis, naskah kuno terpanjang di dunia ini, masih bisa bertahan karena adanya upaya penyebaran isinya secara turun temurun. Baik melalui tradisi tulis maupun lisan.

Passure atau orang yeng melakukan massure  mampu membacakan sekaligus melantunkan hasil karya sastra ini dengan menggunakan bahasa Bugis kuno. Seorang massure yang berarti pembaca surat, sebetulnya tidak hanya mengambil cerita dari kitab La Galigo, melainkan juga dari khazanah cerita-cerita rakyat suku Bugis .

Massure menuturkan ungkapan-ungkapan yang mengandung makna serta nilai-nilai kesatriaan , tatakrama, kearifan budaya yang diselingi dengan perilaku kehidupan yang romantis.

Saat ini keberadaan massure  bisa dikatakan sudah langka. Tidak banyak orang Bugis yang bisa mengucapkan, memahami dan mengerti bahasa Bugis kuno.

Seorang massure tidak hanya sendirian dalam membacakan surat. Massure selalu didampingi seorang pemain kecapi. Bahkan dalam satu pertunjukan biasanya didampingi seorang penerjemah bahasa Bugis kuno, agar para penonton bisa memahami makna surat yang dibacakan massure.

Dalam perkembangannya, sekarang ini seorang massure tidak hanya diiringi kecapi, melainkan telah ditambah alat musik lain seperti suling, biola, gendrang dan alat musik petik lain yang disebut mandolin, mirip seperti perahu sebagai lambang kemashuran Suku Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung. Namun demikian, tetap kecapi yang memegang peranan penting.

Pada tahun 1997 Teluk Bone pernah menampilkan Opera To Malaweng yang di dalamnya terdapat massure. Dalam pementasan itu menampilkan kolaborasi berbagai alat musik dengan memadukan alat musik tradisional dan modern.

Kolaborasi berbagai alat musik dengan massure ini dilakukan semata-mata untuk membuat pertunjukan lebih menarik. Keterbatasan alat musik kecapi yang hanya memiliki dua senar dengan kemampuan satu oktaf, diakui membuat pertunjukan terasa monoton.

Penambahan berbagai instrumen musik ini adalah upaya yang patut dihargai. Karena bagaimanapun, sebuah karya sastra hanya bisa dinikmati bila dikemas dengan apik. Tentu saja upaya ini pun diiringi harapan munculnya massure generasi baru, sehingga salah satu warisan sastra dunia ini tidak hilang di tanah airnya sendiri.

Berikut contoh massure yang pernah ditampilkan Teluk Bone di Societeit De Harmonie Gedung Kesenian Sulawesi Selatan

 

TADDAMPENGENGNGA MARAJA
(MaafKan Sebesar-besarnya)
IYE TABE ………………….TABE ………………………..TABE
(Iya Permisi……Permisi….. Permisi)
TADDAMPENGENGNGA RILANGKANA TUDANGETTA
(Maafkan saya di singgasanamu)
RITUDANGE JAJARETTA
(Di tempat dudukmu)
KULAKKE-LAKKEKANGNGI PASENG
(Kan kusampaikan Pesan)
RAMPE SEUWAE RIWANUANNA BONE
(Pesan dari Batara di Tana Bone)
TANIA UPOMABUSUNG
(Bukanlah saya mengucapkan kata senonoh durhaka)
KUSORONG RI PALELIMA
(Kuukir di telapak tangan)
SALAMA SUMANGE BENNANG PATI
(Selamat dan semangat benang berkekalan)
TORILOLANGENG TALINGKENNA LABELA
(Menurut kata orang yan mengatakan)
MAKKEDAI LAMENGRIRANA
(Kata orang dulu)
ENGKA GARE ANA PATTOLA
(Ada anak generasi)
ANAKKARUNG MPULAWENG PALILINA BONE
(Anak bangsawan di Tanah Bone)
RIRAMPE RILALENG LIPU
(Disebut di dalam kampung)
LETTU LAO RI SALIWENG PANUWA
(Sampai ke luar Kampung)
NAPOUNGA – UNGA TIMUIYA BELA ANA PATTOLA
(Selalu disebut anak sederajat berdarah bangsawan)
NAUJU SIA PAKKITA
( Diselimuti pandangan mata)
ANA SIPAJAJIANG NAGILING SIAMELLERI
(Anak kerabat raja yang disepakati)
TEPPASIPAJAJIANG GAU MASALA
(Tak pernah melakukan perbuatan melanggar adat)
MASALA RIPANGKAUKENG
(Perbuatan yang Melanggar)
MAKKITA RITAJANG MASSEWAE
(Melihat terang benderang)
NASALEORI APPASE SIMULAJAJI
(Berselimut pesan sejak lahir)
MUTOKKONG RIENGKAMU MAKKITA TAJANG
(Engkau bangkit dikala engkau melihat terang)
ASSEUWANNA DEWATAE
(Karena kebesaran Ilahi)
EPAJAJIAYANGNGENGNGI SEUWA-SEUWAE
(Yang menjadikan Alam semesta)
PURATO MADDIONRO
(Sudah menjadi tatatanan)
KURUMAI SUMANGE’MU
(Berbahagialah kamu sekalian)
NASABA PAKKEGELLI DEWATAE
(Karena hal yang dibenci Tuhan)
TUDANG SARA TEA PANGADERENG
(Duduk merenung tanpa peradaban)
PATTARO ADE MAPPURA ONRO
(Sudah menjadi tatanan Adat)
NARILADUNG NA SIA
(Dibuanglah ia )
AWE KASI ….. AWE………………………
(Amboi Kasihan ….. Amboi……)
SOKKUNI SIA MINASATTA
(Sempurnalah segala harapan)
MAPPURA ONRONI ASSAMATURUSETTA
(Lengkaplah kesepakatan kita)
PURA TOTONI MINASAE
(Sudah suratan harapan)
LIMBANGNI SIA RI MAJE
(Menyeberanglah ia di alam barzah)
LETENI RI PAMMASSEARENG
(Berjalanlah ia di alam kematian)
NAWA-NAWAI TODDONA
(Merenungi Nasibnya)
TODDO PULI TELLARANA
(Nasib takkan berubah lagi)
AWE………………
(Amboi …….)
SAGALA RITU MENNANG
(Kalau ada susah kemudian)
AJA NAOMPO WARAKKARANG
(Jangan muncul pemikiran buruk)
TENGWIJA NALALENGI PAMALENA
(Tak boleh ada generasi yang mendapatkan imbasnya)
PURA MADDIONRONI TOTOE
(Sudah menjadi suratan takdir)
TOTO POLE RIPAMMASE SEUWWAE
(Takdir dari yang kuasa)
ITAWA PUANG DEWATA
(Lihatlah hamba-Mu ya Tuhan)
RI LIPU KASIWIANGKU
(Di tanah kelahiranku)
KUPUMADIMENG RIPAMMASE
(Saya mengharapkn perlindungan-Mu ya Tuhan)
SALIPUNA TEMMADINGING
(Peluklah kami dgn penuh kemesraan)
AWE SEDDI PALE BULO-BULO
(Satu asal muasal)
NAPOLEI SIPADDUWA
(Asal muasal ia keduanya)
NAGILING SIAMELLERI SIPAJAJIANG GAU MASALA
(Kembali menyatu dalam perbuatan melanggar norma)
MASALA RIPANGKAUKENG
(Melanggar karena perbuatan)
NARIYASENNA MALAWENG
(Disebutlah ia Malaweng)
AWE ……..
(Amboi ……..)
TENNA ELORI DEWATAE
(Dilarang oleh Tuhan)
NAPOSIRI TO MAEGAE
(Pantang bagi orang banyak)
NAMAGELLI ANANGNGE
(Marah orang banyak)
NAIYYA TAU MALAWENGNGE
(Adalah orang yang melanggar Adat)
SAPA TANA TULA PATTAUNGENG
(Merupakan bencana dan kutukan bertahun-tahun)
TEPPARANRU RAUKAJU
(Takkan hidup tumbuh-tumbuhan)
TEPPALORONGI WELARENG
(Takkan menjalar umbi-umbian)
MABELAI GARE BOSIE
(Hujan semakin jauh)
TEPPATUWO TANENG-TANENG
(Takkan menghidupi segala tanaman)
PAPOLEI WISESA
(Mendatangkan wabah)
TEPPAJAJI NAWA-NAWA
(Tak mendatangkan harapan)
AWE………
(Amboi…….)
RIAPPASENGENG ANA TENCAJI
(Menjadi pesan bagi generasi)
AJA LALO NAITAI BATI
(Janganlah diikuti)
TENRITANENG TAUSENNA
(Tak bisa ditanam batunya)
AJA NALLENGNGE WIJANNA
(Janganlah tumbuh anaknya)
NASABA PAKKEGELLI DEWATAE
(Karena dibenci oleh Tuhan)
PATTARO ADE MAPPURA ONRO
(Sudah menjadi norma dan tatanan harga mati)

BAGIKAN