Bunyi Perjanjian Tellumpoccoe

0
299

BOSOWA merupakan akronim tiga nama daerah Bugis yakni BONE, SOPPENG dan WAJO yang telah berabad-abad menjalin persaudaraan pada masa kerajaan. Sebenarnya kalau merujuk dari perjanjian tellumpoccoe yang benar adalah BOWASO (Bone, Wajo, Soppeng)

Ulu Adae ri Timurung atau Perjanjian Tellumpoccoe Tahun 1572 Masehi

Dalam catatan lontara’ Bugis dijelaskan bahwa pada masa Bone dibawah pemerintahan Raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkangnge (1544-1574) beberapa kali mengalami bencana perang yang didalangi oleh pihak Gowa dan Luwu. Walaupun Bone selama itu selalu unggul, namun dapat dimaklumi bahwa Bone menderita kerugian harta benda dan sumber daya manusia (SDM) serta kehidupan sosial budaya.

Untuk memperkuat kedudukan Bone sebagai suatu kerajaan yang tangguh, La Tenri Rawe menjalin hubungan kerja sama dengan Arung Matowa Wajo yang bernama To Uddamang. Begitu juga dengan Datu Soppeng yang bernama Lamappaleppe PollipuE Datu Soppeng. Maka diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk memperkuat hubungan antara Bone, Soppeng dan Wajo.

Isi Perjanjian Tellumpoccoe dalam bahasa Lontara

Adapun kesepakatan yang diambil di Cenrana adalah ketiganya akan mengadakan pertemuan lanjutan di Timurung Bone Utara tahun 1572 M. Setelah sampai pada waktu yang telah ditentukan, maka berkumpullah orang Bone, orang Soppeng, dan orang Wajo di suatu tempat yang bernama Bunne Timurung sekarang bernama desa Allamungeng Patue kecamatan Ajangale. Upacara pembentukan zona Triple Alliance tersebut dihadiri oleh delegasi-delegasi dari tiga Kerajaan antara lain :

1.Bone, yaitu : La Tenrirawe Bongkangnge, Kajao Laliddong dan pembesar-pembesar kerajaan Bone lainnya.
2.Soppeng, yaitu : La Mappaleppe Pong Lipue, Datu Soppeng, Arung Bila, Arung Pangepae, dan Arung Paddanrengnge dan pembesar-pembesar kerajaan Soppeng lainnya.
3.Wajo, yaitu: La Mungkace Touddamang Arung Matowa, Pillae, Cakkuridie, Pattolae, dan pembesar-pembesar kerajaan Wajo lainnya.

Ketiganya mengucapkan ikrar yang berbunyi :

1.Malilu sipakainge’, Rebba sipatokkong, Siappidapireng riperi nyameng (Memperingati bagi mereka yang tidak menaati kesepakatan, saling mengakkan jika ada yang tersungkur dan saling membantu dalam suka duka).

2.Tessibaiccukeng, Tessiccinnaiyyang ulaweng matasa, Pattola malampe, Waramparang maega pada mellebbang ri saliweng temmallebbang ri laleng (Tidak akan saling mengecilkan peran, tidak akan saling menginginkan perebutan takhta dan penggantian putera mahkota dan tidak saling mencampuri urusan dalam negeri).

3.Teppettu-pettu siranreng sama-samapi mappettu, Tennawa –nawa tomate jancitta, Tennalariang anging ri saliweng bitara, Natajeng tencajie, Iya teya ripakainge’ iya riduai, Mau maruttung langie, Mawoto paratiwie, Temmalukka akkulu adangetta, Natettongi dewata seuwae.
(Tidak akan putus satu-satu melainkan semua harus putus, perjanjian ini tidak akan batal kerena kita mati dan tidak akan lenyap karena dihanyutkan angin keluar langit, mustahil terjadi. Siapa yang tidak mau diperingati dialah yang harus diserang kita berdua. Walaupun langit runtuh dan bumi terbang. Perjanjian ini tidak akan batal dan disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Dewata Seuwae).

4.Sirekkokeng tedong mawatang, Sirettoang panni, Sipolowang poppa, Silasekeng tedong siteppekeng tanru tedong ( Saling menundukkan kerbau yang kuat, saling mematahkan paha, saling mengebirikan kerbau. Artinya mereka akan saling memberikan bantuan militer untuk menundukkan musuh yang kuat )

5.Tessiottong waramparang, Tessipalattu ana’ parakeana (Tidak akan saling berebutan harta benda dan berlaku bagi generasi penerus).

Demikian isi perjanjian TellumpoccoE yang terkandung dalam perjanjian yang diprakarsai oleh La Tenri Rawe BongkangE (Bone), La Mappaleppe (Soppeng) dan To Uddamang (Wajo).

Pertemuan tiga kerajaan yang lebih dikenal dengan nama Ulu Adae ri Timurung (Perjanjian TellumpoccoE) yang diadakan di Timurung di suatu kampung kecil yang bernama Bunne kecamatan Ajangale sekarang.

Dalam pertemuan tersebut sebelum mereka Mallamumpatu (menenggelamkan batu) sebagai tanda sahnya perjanjian maka terjadi sebuah percakapan antara La Tenrirawe Bongkangnge Arumpone, La Mungkace Arung Matowa Wajo dan La Mappaleppe Datu Soppeng.

Adapun bunyi percakapannya sebagai berikut :

Arung Matowa Wajo bertanya kepada Arumpone :
“Bagaimana mungkin Arumpone, untuk kita hubungkan tanah kita bertiga, sementara Wajo adalah kekuasaan Gowa. Kemudian kita tahu bahwa antara Bone dengan Gowa juga memiliki hubungan yang kuat ?”.

Arumpone menjawab :
”Itu pertanyaan yang bagus Arung Matowa. Tetapi yang menjalin hubungan disini adalah Bone, Soppeng, dan Wajo. Selanjutnya Bone menjalin hubungan dengan Gowa. Kalau Gowa masih mau menguasai Wajo, maka kita bertiga melawannya”.

Pernyataan Arumpone tersebut diiyakan oleh Arung Matowa Wajo.

Berkata pula La Mappaleppe PollipuE Datu Soppeng :
”Bagus sekali pendapatmu Arumpone, tanah kita bertiga bersaudara. Tetapi saya minta agar tanah Soppeng adalah pusaka tanah Bone dan Wajo. Sebab yang namanya bersaudara, berarti sejajar”.

Arumpone menjawab :
”Bagaimana pendapatmu Arung Matowa, sebab menurutku apa yang dikatakan oleh Lamappaleppe PollipuE Datu Soppeng adalah benar ?”.

Arung Matowa Wajo menjawab:
”Saya kira tanah kita bertiga akan rusak apabila ada yang namanya – sipoana’ (ada yang menganggap dirinya tua dan ada yang muda).”

Berkata lagi Arumpone:
”Saya setuju dengan itu, tetapi tidak apalah saya berikan kepada Soppeng Gowa-gowa dan sekitarnya untuk penambah daki, agar tanah kita bertiga tetap bersaudara”.

Berkata pula Arung Matowa Wajo:
”Bagus pendapatmu Arumpone, saya juga akan memberikan Soppeng penambah daki yaitu Baringeng, Lompulle dan sekitarnya”. Maka mulai pada saat itu wilayah gowa-gowa (kec. Lilirilau), Baringeng, dan Lompulle telah menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Soppeng.

Datu Soppeng dan Tau TongengngE berkata:
”Terima kasih atas maksud baikmu itu, karena tanah kita bertiga telah bersaudara, tidak saling menjerumuskan kepada hal yang tidak dikehendaki, kita bekerja sama dalam hal yang kita sama kehendaki”.

Berkata Arumpone dan Arung Matowa Wajo:
”Kita bertiga telah sepakat, maka baiklah kita bertiga meneggelamkan batu, disaksikan oleh Dewata SeuwaE, siapa yang mengingkari perjanjiannya dialah yang ditindis oleh batu itu”.

Berkatalah Arung MatowaE ri Wajo kepada Kajao Laliddong sebagai orang pintarnya Bone :
”Janganlah dulu menanam itu batu, Kajao! Sebab saya masih ada yang akan kukatakan bahwa persaudaraan TellumpoccoE tidak akan saling menjatuhkan, tidak saling berupaya kepada hal-hal yang buruk, janganlah kita mengingkari perjanjian, siapa yang tidak mau diingatkan, dialah yang kita serang bersama (diduai), dia yang kita tundukkan”.

Pernyataan Arung MatowaE tersebut disetujui oleh Arumpone dan Datu Soppeng. Setelah itu barulah ketiganya mellamumpatu (menenggelamkan batu) sebagai tanda sahnya perjanjian yang disaksikan oleh Dewata Seuwae.

Situs perjanjian yang menyerupai anglo tersebut adalah batu besar (Bone) yang menandakan Bone sebagai saudara tua, kemudian yang agak kecil (Wajo) sebagai saudara tengah dan yang paling kecil (Soppeng) sebagai saudara bungsu.

Dan sejak itulah istilah “Mallamungeng Patue ri Timurung” dikenal dengan persekutuan tiga kerajaan besar Tellumpoccoe atau yang lebih dikenal sekarang dengan nama “BOSOWA”.

Memberikan pengetahuan kepada generasi muda tentang betapa besarnya nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan oleh pendahulu kita.
Sejarah memang masa lalu tetapi dengan Sejarah kita akan tahu JATI DIRI kita yang sebenarnya. Melupakan sejarah leluhur sama halnya mengubur jatidiri.

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here