Perbedaan Huruf Lontara Bugis dan Lontara Makassar

0
16
Andi Najamuddin Petta Ile saat memberikan materi pada acara Dialog Budaya , Watampone, Selasa 7 November 2017

Menurut Andi Najamuddin Petta Ile (Budayawan Bugis) pada acara Dialog Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, bahwa pada umumnya huruf/aksara lontara Bugis dan Makassar memiliki kesamaan. Adapun yang membedakan adalah jumlah induk huruf (indo sure’) Bugis / Makasar (Anrong hurupu).

Indo sure’ untuk lontara Bugis berjumlah 23 buah sedangkan Makassar hanya 19 buah. Perbedaan induk huruf itu adalah NGKA-MPA-NRA-NCA

SUSUNAN LONTARA BUGIS (23 HURUF) antara lain :
KA GA NGA NGKA
PA BA MA MPA
TA DA NA NRA
CA JA NYA NCA
YA RA LA WA
SA A HA

SUSUNAN LONTARA MAKASSAR (19 HURUF) antara lain :

KA GA NGA
PA BA MA
TA DA NA
CA JA NYA
YA RA LA
WA SA A HA

Dalam huruf lontara Bugis dikenal ada 5 ana’ sure’ yakni tanda bunyi (a-i – u – e – o). Sedangkan tanda baca terdiri dari bentuk titik (tetti’) dan aksen (kacce’).

Lontara merupakan aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Bentuk aksara lontara berasal dari “sulapa’ eppa wala suji”. Wala suji berasal dari kata WALA yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan SUJI yang berarti putri/gadis.

Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah.

Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kallang (kalam) yang terbuat dari lidi ijuk.

Istilah “Lontara” juga mengacu pada literatur mengenai sejarah dan geneologi masyarakat Bugis. Contohnya Sure’ Galigo, dengan jumlah halaman yang mencapai 6000 lembar.

Lontara dimasa lalu dipakai untuk menulis berbagai macam dokumen seperti peta, hukum perdagangan, Ulu Ada (surat perjanjian), hingga buku harian. Dokumen-dokumen tersebut biasanya ditulis dalam sebuah buku, namun terdapat juga medium tulis tradisional bernama Lontara’, di mana selembar daun lontar yang panjang dan tipis digulungkan pada dua buah poros kayu sebagaimana halnya pita rekaman pada tape recorder. Teks kemudian dibaca dengan menggulung lembar tipis tersebut dari kiri ke kanan.

Walaupun penggunaan aksara Latin telah menggantikan Lontara, tulisan ini masih dipakai dalam lingkup masyarakat Bugis dan Makassar. Dalam komunitas Bugis, penggunaan bahasa Lontara masih sering dipakai dalam upacara seperti acara pernikahan.

Dari sisi penggunaannya, Lontara tidak memiliki sebuah tanda virama (tanda pemati vokal) atau tanda konsonan akhir. Bunyi nasal /ŋ/, glotal /ʔ/, dan gemitasi konsonan dalam bahasa Bugis tidak ditulis. Karena itu, teks Lontara bagi yang tidak terbiasa sering menjadi sangat rancu.

Tanda baca vokal atau ana sure digunakan untuk mengubah vokal inheren suatu konsonan seperti gambar di bawah ini.

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here