Inilah 4 Tokoh Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 2017

0
12
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Salah satu dari 4 Tokoh Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 2017

Empat tokoh dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Tahun 2017 yakni Almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari NTB, Almarhum Laksamana Malahayati dari Aceh, Almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepri, dan Lafran Pane dari DI Yogyakarta.

Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, Kamis, menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/TAHUN 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Acara penganugerahan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan Nasional Tahun 2017.

Presiden Jokowi secara resmi menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada ahli waris dari 4 tokoh yakni TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tokoh dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Laksamana Malahayati tokoh dari Provinsi Aceh, Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepulauan Riau, dan Lafran Pane dari DI Yogyakarta.

Penganugerahan tersebut memperhatikan Petunjuk Presiden RI kepada Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan berkenaan dengan Hasil Sidang III Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan pada 19 Oktober 2017 sesuai usulan dari Kementerian Sosial RI tentang Permohonan pemberian Gelar Pahlawan Nasional.

Keempat tokoh tersebut dianggap pernah memimpin dan berjuang dengan mengangkat senjata atau perjuangan politik untuk merebut, mempertahankan, mengisi kemerdekaan, dan mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Mereka juga dianggap tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan, mengabdi dan berjuang sepanjang hidupnya bahkan melebihi tugas yang diembannya, pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara, hingga pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Para tokoh tersebut juga dianggap memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi hingga perjuangannya dinilai berdampak luas di kalangan masyarakat.

Hadir dalam acara penganugerahan tersebut keluarga ahli waris keempat tokoh, para Menteri Kabinet Kerja, dan para pejabat seperti Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPD Oesman Sapta, dan lain-lain.

Berikut Profil Masing-masing Tokoh yang dianugerahi Pahlawan Nasional 2017 :

  1. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berasal dari Nusa Tenggara Barat. Dia lahir ‎di Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, 5 Agustus 1898 dan meninggal di Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, 21 Oktober 1997. Muhammad Zainuddin tutup usia dengan umur 99 tahun. ‎

Ia merupakan salah seorang pejuang Indonesia. Muhammad Zainuddin juga merupakan pendiri Nahdlatul Wathan. Gelar tuan guru diberikan kepada Muhammad Zainuddin karena dianggap sebagai tokoh agama yang mampu membina, membimbing dan mengayomi umat Islam dalam hal-hal keagamaan dan sosial kemasyarakatan di daerahnya.

2. Laksamana Malahayati

Laksamana Malahayati merupakan pejuang perempuan yang berasal dari Kesultanan Aceh.‎ Malahayati dikenal sebagai panglima perang perempuan pertama di dunia.

Laksamana Malahayati pernah memimpin 2.000 pasukan Inong Balee atau janda-janda pahlawan yang telah syahid berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng penjajah Eropa, pada 11 September 1599.

Dalam pertempuran itu, pejuang perempuan asal Tanah Rencong itu berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Cornelis adalah seorang penjelajah Belanda yang menemukan jalur pelayaran dari Eropa ke Indonesia dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah bagi Belanda.

Malahayati diketahui mendapat gelar laksamana atas keberaniannya, sehingga kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.

3. Sultan Mahmud Riayat Syah

Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepulauan Riau. Sultan Mahmud Syah III merupakan sultan Johor-Riau-Lingga ke-16 pada 1761-1812 Masehi. Raja Mahmud Syah III masih berusia setahun ketika dinobatkan sebagai Sultan.

Ia menggantikan Sultan Ahmad Riayat Syah (Marhum Tengah) yang mangkat pada tahun 1761, dengan gelar Sultan Mahmud Syah III.

Sultan Mahmud Syah III dikenal sebagai ahli gerilya laut. Bahkan, pemerintah Malaysia juga menghormatinya.

Demi taktik perang melawan Belanda, Sultan Mahmud Syah III kemudian memindahkan Ibukota kerajaan di Lingga hingga akhir hayatnya, tahun 1812 M. Sebagai pemimpin tertinggi Kerajaan Johor-Riau-Lingga dan Pahang, banyak kebijakan Sultan Mahmud Syah III yang strategis dan monumental.

Salah satunya dengan memerintahkan perjuangan melawan penjajah dalam perang di Teluk Riau dan Teluk Ketapang Melaka pada tahun 1784. Dalam peperangan ini, panglima perang Raja Haji Fisabillillah, tewas sebagai syahid.

Meski mengalami kekalahan, tidak menyurutkan perjuangan Sultan Mahmud Syah III melawan penjajah. Beliau justru semakin memperkuat armada perangnya, menyusun strategi dan membangun pusat-pusat ekonomi.

Sultan Mahmud Syah III juga mempererat kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang dengan beberapa kerajaan lainnya seperti Jambi, Mempawah, Indragiri, Asahan, Selangor, Kedah dan Trenggano.

Sultan Mahmud Syah III, menguatkan persaudaraan antara Melayu dan Bugis melalui sumpah setia dan pernikahan antara kedua belah pihak. Kebijakan Sultan ini terbukti mampu menjadi senjata ampuh, melawan penjajah yang terkenal dengan politik adu dombanya.

Pada masanya juga, Lingga dirintis menjadi pusat tamaddun Melayu. Diantaranya menggalakkan dunia tulis (mengarang) dalam kitab-kitab ajaran agama Islam dan bahasa (sastra) Melayu. Kelak, bahasa Melayu menjadi cikal bakal bahasa pemersatu nusantara, yakni bahasa Indonesia.

Sultan Mahmud Syah III, menjadikan Pulau Penyengat sebagai maskawin pernikahannya dengan Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji. Berkat perjuangan Sultan pula, akhirnya Lingga dan Pulau Penyengat menjadi kota yang hebat. Lingga kemudian dikenal sebagai Bunda Tanah Melayu dan Pulau Penyengat sebagai Pulau Indera Sakti.

4. Prof Lafran Pane

Prof Lafran Pane adalah pahlawan nasional yang keempat yang diberi gelar Kepala Negara. Ia lahir di Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada 5 Februari 1922. Atas perjuangannya yang mempertahankan kemerdekaan dengan mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadikan salah satu pemikir bangsa ini pantas menjadi pahlawan nasional.

HMI yang didirikan pada 5 Februari 1947 itu merupakan organisasi tertua dan terbesar mahasiswa yang telah banyak melahirkan tokoh dan pemimpin di Indonesia.

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here