Walasuji Makna dan Filosofi

29

Istilah Walasuji tidak asing dikalangan Bugis. Walasuji berasal dari kata WALA yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan SUJI  yang berarti PUTRI /ANAK DARA/WELAMPELANG. Walasuji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa’ Eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis  klasik yang menyimbolkan susunan semesta, yakni api, angin,  air, dan tanah . Demikian pula arah mata angin, yakni Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Selanjutnya unsur pembentuk manusia  itu sendiri, yakni api, air, angin, dan tanah.

 
Jika Anda pernah mengunjungi acara adat atau perkawinan Kerabat Bangsa Bugis, tentu Anda akan melihat suatu Baruga  yang pintu masuknya beratap model Walasuji (di atas pintu gerbang) yang terletak  di depan pintu rumah /baruga mempelai atau yang melaksanakan hajatan. Walasuji ini terbuat dari anyaman bambu. Mengapa Walasuji harus menggunakan pohon bambu, karena pohon bambu dipercaya memiliki makna filosofi .
 
Pohon bambu adalah sejenis tumbuhan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Ada satu sisi dari pohon bambu dapat dijadikan bahan pembelajaran bermakna, yakni pada saat proses pertumbuhannya. Pohon bambu ketika awal pertumbuhannya atau sebelum memunculkan tunas dan daunnya terlebih dahulu menyempurnakan struktur akarnya. Akar yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur, dan tidak patah sekalipun ditiup angin kencang.
 
Metafora tersebut mengajarkan kepada manusia agar tumbuh, berkembang dan mencapai kesempurnaan bergerak dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Lebih jauh memahami filosofi pohon bambu tersebut, bahwa menjadi apa sesungguhnya kita ini sangat tergantung pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan kita tentang “Keimanan kepada Allah SWT” yang terdapat dalam hati (qalbu) kita masing-masing.
 
Wala Suji ini merupakan cikal bakal tulisan lontara. Karena pada masa-masa itu belum ada yang namanya pulpen, pensil dan sejenis alat tulis lainnya. Huruf lontara ini pada awalnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar.
 
Sebenarnya konsep segi empat pada Walasuji ini, berpangkal pada kebudayaan bangsa Bugis yang memandang alam raya sebagai sulapa’ eppa walasuji (segi empat belah ketupat). Menurut almarhum Prof DR Mattulada, budayawan Sulawesi Selatan yang juga guru besar Universitas Hasanuddin, Makassar, konsep tersebut ditempatkan secara horizontal dengan dunia tengah. Dengan pandangan ini, masyarakat Bugis  memandang dunia sebagai sebuah kesempurnaan.
 
Kesempurnaan yang dimaksud meliputi empat persegi penjuru mata angin, yaitu timur, barat, utara, dan selatan. Secara makro, alam semesta adalah satu kesatuan yang tertuang dalam sebuah simbol aksara Bugis,, yaitu ‘sa’ yang berarti seuwwa, artinya tunggal atau esa. Begitu pula secara mikro, manusia adalah sebuah kesatuan yang diwujudkan dalam sulapa’ eppa Berawal dari hati ke mulut manusia segala sesuatu dinyatakan, Ininnawa  ke bunyi, bunyi ke kata, kata ke perbuatan, dan perbuatan mewujudkan jati diri manusia. Dengan demikian, Wala Suji dalam dunia ini, dipakai sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimiliki seseorang. Kesempurnaan yang dimaksud itu adalah Awaraniang  (keberanian), akkarungeng (kebangsawanan), asugireng (kekayaan), dan akkessingeng (ketampanan/kecantikan).
 
Penggunaan Coppo’ Walasuji sekarang ini bukan hanya pada acara hajatan akan tetapi sering juga digunakan pada acara lain baik formal maupun informal seperti kegiatan Tudang Sipulung yang dilaksanakan di tanah lapang.

KOMENTAR ANDA

Please enter your comment!
Please enter your name here