Silariang dari Berbagai Sumber

24

 KETIKA CINTA TAK BOLEH BERSATU

Silariang, atau kawin lari kadang memang menjadi pilihan terakhir dua insan yang sedang dimabuk cinta tapi tidak beroleh restu. Baik restu dari salah satu keluarga, atau restu dari kedua pihak keluarga. Bagi suku Bugis-Makassar, anak gadis yang dibawa lari atau kawin lari tanpa restu dari orang tua berarti aib besar, sebuah perbuatan yang dianggap mencoreng nama baik keluarga dan merendahkan harga diri keluarga besar utamanya keluarga besar si wanita.

Silariang adalah salah satu pilihan yang termasuk dalam perbuatan annyala. Annyala dalam bahasa Makassar berarti berbuat salah, sebuah pilihan salah yang diambil sepasang kekasih ketika cinta mereka tak mampu menembus tembok restu kedua pihak keluarga.

Annyala terdiri atas tiga macam, yaitu :

Silariang atau kawin lari. Kondisi di mana sepasang kekasih yang tak beroleh restu itu sepakat untuk kawin lari atau dalam artian keduanya melakukan kawin lari tanpa paksaan salah satu pihak.

Nilariang atau dibawa lari. Kondisi di mana si anak gadis dibawa lari oleh lelaki, entah karena paksaan atau karena si anak gadis sedang berada dalam pengaruh pelet.

Erang kale. Kondisi di mana si gadis mendatangi si lelaki, menyerahkan dirinya untuk dinikahi meski tanpa restu dari orang tuanya. Biasanya ini terjadi karena di anak gadis telah hamil di luar nikah dan meminta tanggung jawab dari lelaki yang menghamilinya.

Ketiga kondisi di atas termasuk perbuatan annyala, meski yang paling sering terjadi adalah silariang. Ketika si anak gadis menjatuhkan pilihan untuk annyala atau silariang maka seketika itu juga dia dianggap mencoreng muka keluarganya dan menjatuhkan harga diri keluarga besarnya atau disebut appakasirik. Keluarga besar si gadis akan kehilangan muka di masyarakat, sementara si lelaki dan keluarganya yang membawa lari si anak gadis disebut tumasirik atau yang membuat malu.

Si gadis dan pasangan kawin larinya kemudian akan dianggap sebagai tumate attallasa, orang mati yang masih hidup. Mereka telah dianggap mati dan tidak akan dianggap sebagai keluarga lagi sebelum mabbajik atau datang memperbaiki hubungan.
silariang

Bagi keluarga lingkar dalam si gadis, sebuah kewajiban diletakkan pada pundak mereka, khususnya kepada kaum lelaki. Kewajiban untuk menegakkan harga diri keluarga, sehingga di manapun dan kapanpun mereka melihat si lelaki pasangan silariang itu maka wajib bagi mereka untuk melukainya dengan sebilah badik. Ini adalah harga mati untuk menegakkan harga diri keluarga.

Perkecualian diberikan apabila pasangan tersebut lari ke dalam pekarangan rumah imam kampung. Pasangan tersebut akan aman di sana, karena ada aturan yang menyatakan kalau mereka tak boleh diganggu ketika berada dalam perlindungan imam kampung.

Imam juga yang akan menjadi perantara ketika pasangan silariang akan kembali ke keluarganya secara baik-baik atau disebut mabbajik.

Imam akan datang kepada keluarga si gadis, bernegosiasi dan menentukan waktu yang tepat untuk pelaksanaan acara mabbajik. Ketika kesepakatan sudah terpenuhi, maka imam akan membawa pasangan tersebut datang kepada keluarga besar si gadis sambil membawa sunrang ( mas kawin ) serta denda yang telah disepakati.

Selepas acara mabbajik maka lepas juga annyala yang selama ini tercetak di jidat pasangan kawin lari tersebut. Mereka bisa kembali kepada keluarga besarnya dan dengan demikian harga diri keluarga besar juga dianggap telah ditegakkan. Lepas pula kewajiban kaum lelaki dari keluarga besar si gadis untuk meneteskan darah si lelaki yang telah membawa lari anak gadis mereka.

Bagaimana dengan jaman sekarang? Hukum adat atas pelaku silariang masih tetap sama, meski memang tidak semua kaum lelaki dari keluarga si gadis dibebankan kewajiban untuk menghukum pelakunya dengan badik. Setidaknya lelaki dari keluarga gadis yang dipermalukan sudah berpikir panjang untuk mengambil langkah melukai pasangan silariang tersebut.

Meski begitu, beberapa tahun lalu seorang teman saya pernah dipenjara karena baru saja membunuh tumasirik-nya, seorang lelaki yang membawa lari gadis sepupunya. Sang teman bertemu si lelaki itu di jalan, karena ingat dengan kewajibannya si teman buru-buru kembali ke rumah dan mengambil badik sebelum kembali mengejar si lelaki. Mereka bertemu kembali di jalan, terjadi pertarungan sengit sebelum teman saya berhasil membunuh tumasirik-nya dengan beberapa tusukan.

Meski jaman sekarang hukuman adat ataupun sanksi sosial terhadap pelaku kawin lari di masyarakat suku Bugis -Makassar telah mengalami degradasi, tapi tetap saja silariang menjadi sebuah pilihan tabu untuk pasangan yang tidak beroleh restu. Jadi, memang jauh lebih nyaman apabila menikah dengan restu keluarga. Tentu lebih nyaman daripada harus silariang.

Sumber : daenggassing.com
=========================

SILARIANG PADA SUKU MAKASSAR

Silariang atau kawin lari tidak hanya dikenal oleh suku atau ada Makassar. Suku lainnya pun di Indonesia pun mengenalnya. Hanya saja yang membedakan adalah sanksi adat yang diterapkan pada kedua pelaku silariang. Kalau pada suku lainnya, biasanya sanksi tidak begitu berat, tetapi pada suku Makassar, biasanya berakhir dengan pembunuhan terhadap pelaku.

Kawin silariang ini biasanya terjadi karena salah satu pihak keluarga tak menyetujui hubungan asmara dari kedua pasangan ini. Mungkin karena perbedaan strata sosial, atau karena wanita yang menjadi kekasihnya itu hamil di luar nikah, sehingga mereka mengambil jalan pintas, yakni melalukan silariang.
Walaupun kedua pasangan silariang ini menyadari, bahwa tindakan silariang ini penuh resiko, tetapi inilah jalan yang terbaik baginya untuk membina rumah tangga dengan kekasihnya kelak.
Untuk mengetahui secara jelas apa arti silariang ini, akan ditulis beberapa pendapat para pakar budaya baik dalam maupun luar negeri.
Pendapat para pakar tentang pengertian silariang atau kawin lari

1. Dr. T.H. Chabot mengatakan bahwa perkawinan Silariang adalah apabila perempuan dengan laki-laki sepakat lari bersama-sama.
2. Bertlin mengatakan perkawinan silariang adalah apabila perempuan dengan laki-laki lari lari atas kehendak kedua belah pihak.
3. Mr. Moch Nasir Said mengatakan Silariang adalah perkawinan yang dilangsungkan setelah laki-laki dengan perempuan lari bersama-sama atas kehendak sendiri-sendiri.

Dari pendapat para pakar di atas maka dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian kawin silariang, yakni sebagai berikut:

” kawin Silariang adalah perkawianan yang dilakukan antara sepasang laki-laki dan perempuan setelah sepakat lari bersama, perkawinan di mana menimbulkan siri’ bagi keluarganya khususnya keluarga pihak perempuan, dan kepadanya dikenakan sanksi adat.

Sumber : Guru Sejarah

=============================

SILARIANG, DEFNISI MAKNA DALAM BUDAYA BUGIS MAKAASAR

Perkawinan silariang adalah apabila gadis perempuan dan pemuda / laki-laki lari bersama-sama. (Dr. T. H. Chabot)

Silariang adalah perkawinan yang dilangsungkan setelah pemuda dengan gadis lari bersama-sama atas kehendak sendiri. ( Mr. Muh. Natsir Said )

Tumanyala adalah orang yang perkawinannya menyalahi aturan atau adat yang berlaku.

Tumasiri’ adalah orang yang dipermalukan (terutama pihak perempuan).

Nilariang istilah yang digunakan untuk menyebut kawin lari (silariang)hanya kehendak dari pihak lelaki.

Erangkale adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kawin lari untuk perempuan yang membawa atau menawarkan dirinya pada lelaki.

Annyala Kalotoro adalah istilah yang digunakan untuk perempuan kawin lari tanpa ada laki-laki yang bertanggung jawab.

Salimara adalah istilah yang digunakan untuk suatu hubungan seksual yang terlarang karena hubungan keluarga yang terlalu dekat.

SIRI’ adalah singkatan dari sikedde rinring(sedikit dinding). Maksudnya adalah dinding pembatas antara sifat manusia dengan binatang hanya sedikit sekali yakni SIRI ( harga diri).

Sumber : kaumproletarian

KOMENTAR ANDA

Please enter your comment!
Please enter your name here