Menelusuri Bendera Pusaka Kerajaan Bone

0
11

 

Kerajaan  Bone didirikan  Tahun 1330, ketika serikat antara tujuh negara kuno  yakni Ujung, Tibojong, Ta, Tanete Riattang, Tanete Riawang, Ponceng, dan Macege dilakukan  oleh Mata Selompu.  Beliau  diundang oleh dewan penasihat dari tujuh penguasa menjadi penguasa tertinggi pertama dari federasi  ketujuh  kerajaan  yang  menggabungkan diri menjadi kerajaan Bone.  Pada tahun 1582  Bone, Soppeng,  dan  Wajo, mendirikan aliansi TallumpoccoE  yang mendominasi wilayah tersebut selama beberapa dekade. Islam menjadi agama negara pada  1608 ketika Arumpone dikonversi dan mengadopsi raja-raja  menjadi Sultan.  Seperti Arung Palakka yang digelar Sultan Saaduddin.

Selama abad  ke babak  berikutnya Negara Bone  ditaklukkan oleh Gowa beberapa kali yakni  pada tahun 1611, 1640  dan  akhirnya  di 1644. Pada kesempatan terakhir itu Bone kehilangan kemerdekaannya dan menjadi jajahan  kerajaan Gowa – Makassar.  Kerajaan Bone butuh waktu dua puluh tahun merebut  kembali kemerdekaannya di bawah Pimpinan ‘Arung Palakka’  tahun 1660 . Ia mengembangkan Bugis menjadi kekuatan maritim besar yang bersekutu dengan Belanda (Persekutuan  dalam  arti Strategi Perang Arung Palakka)  dan mendominasi pulau-pulau selama hampir satu abad.

Setelah penaklukan Gowa-Makasar oleh Belanda pada 1669 dengan bantuan Arung Palakka, maka Belanda  dengan terpaksa  memberinya kerajaan  Bone  sebagai  sebagai balasannya . Ini diberikan  oleh GG Joan Maetsuyker pada  tanggal 28 Februari 1670. Kemudian  kerajaan Bone  abad berikutnya menjadi kekuatan cukup besar di pulau Celebes  dan  memperluas lingkup pengaruhnya atas kerajaan-kerajaan tetangga

Setelah pendudukan Inggris di awal abad ke- 19,  Belanda menguatkan diri  dengan  ekspedisi militer pada tahun 1824 . Kemudian dilanjutkan ekspedisi militernya  pada tahun 1825, 1859,  dan 1860.   Ketika Belanda mengirim kekuatan militernya  untuk menyerang Bone di tahun 1905, Arumpone lari ke hutan dengan pembesar dan prajurit, dan  bergerilya .  Namun kemudian ia  berhasil ditangkap kemudian dibuang ke Jawa. Sebuah  Dewan bangsawan diberikan Bone  setelah 1905, tapi pemerintahan sendiri dipulihkan pada 1931.


Lambang Negara

 

Tentang lambang negara bagian Bone  memang relative  banyak. Dijelaskan  bahwa setelah ekspedisi militer Belanda ke Bone di pertengahan abad ke-19. Sebuah laporan dari ekspedisi ini ditulis oleh Perelaer, MTH: De Bonische expeditiën: Krijgsgebeurtenissen op Celebes tahun 1859 en 1860. Leiden 1872.  Perbendaharaan dijelaskan dalam artikel “Inventaris van de Thans aanwezige Rijksornamenten van Boni” (Inventarisasi harta  nasional  Bone ), juga dikutip oleh Perelaer. Bahwa Harta karun terdiri dari pedang dan Keris, bendera dan beberapa potongan menarik lainnya dianggap sebagai pusaka atau benda melegitimasi otoritas penguasa. 


Standar Nasional 


Kasitangnga : Standar Nasional Bone, 1755.

Bagian paling mencolok dari harta karun itu adalah  merupakan bendera Standar Nasional yang merupakan lambang mencakup semua Negara  bagian Bone. Tahun 1775

Standar Nasional , bernama  Kasitanganga  atau  Lima-si-attangé   telah disampaikan kepada Raja Bone pada tanggal 16 Agustus 1755, yang mengatakan kepada Raja Abdul Razzaq Jalal (1749 – ’75). Ini menunjukkan:dan menjelaskan, bahwa :


1. Sebuah matahari yang cerah, bulan sabit dan bintang tiga.
2. Para nol dari Kamar Middelburg Perserikatan East India Company (VOC) dan segel Raja Abdul Razzaq Jalal.
3. Sebuah kapal berlayar, menjadi lambang VOC.
4. Sebuah Prestasi:
Emblem: Sebuah lapisan baja dan helm Atau, dan piala yang terdiri dari biru dan bendera merah per chevron, dan beberapa senjata: tombak senapan, pedang, terompet, drum dan sejenisnya   serta dua meriam mengarah keluar, dan barang-barang mereka, dan perisai bundar, semua di atas tanah berumput.
Mahkota : Mahkota Kerajaan Bone Ini menunjukkan kejayaan dan kemakmuran  Bone.
5. Dua tangan menggenggam, mengeluarkan dari dua awan.
6. Motto :
a.  ZOLANG DE EN ZON Maan SCHEYNE:   Zal DE E: COMP E MET Boni VAST VEREENIGT BLEYVE yang artinya :  Salagi ADA Matahari Dan Boelan bĕrtjahaja di Langit dĕmikian-Lagi Kompeni Dan Bone  Akan langgar bĕrkĕkalan jang tiada bĕrtjĕre dalam naskah arab (Selama matahari dan bulan akan bersinar, VOC dan Bone akan tetap kuat bersatu).
b. DOCA ONSE KRAGTEN BLEYVEN DE HANDEN VAST dan: Dari Kami ampoenja kakoewasja-an  Akan Tangan Suami tienggal berpĕgangan  dalam naskah arab (Dengan Pasukan kami Tangan kami tetap Mantap)

SAMPARAJAE

Samparaja adalah  berwarna cahaya biru sutra di tengahnya terdapat  jangkar dalam bordir dihiasi. Memiliki bola dalam bentuk bunga berdaun empat, dua dari daun emas, dan dua lainnya dari besi. Kedua daun ini disebut Brani yang berarti “berani” dan berubah menjadi musuh dalam pertempuran. Bola yang dihiasi dengan rambut seorang pangeran Seram yang dibunuh.

Jangkar  mengacu pada kekuatan maritim atau angkatan laut dari kerajaan Bone 

     BENDERA NEGARA BAGIAN BONE

Cellae ri-Atau dan Cellae ri-Abeo


Bendera  orang-orang Bone terbagi dalam tiga kelompok yaitu :
  • Kelompok pertama, yang dikumpulkan di sekitar Waromporong terdiri dari orang-orang dari Madjang, Matowanging, Bukaka, Kawarrang, dan Maloi. Waromporong dilakukan oleh Matuwa dari Majang.
  • Kelompok kedua, yang dikumpulkan di sekitar Tjallae-ri-atau, terdiri dari orang-orang dari Patjieng, Tanete, Lemo Lemo, Masalle, Matjege, dan Belawa. Tjallae-ri-atau ini dilakukan oleh Kadjao Tjiu.
  • Kelompok ketiga, yang dikumpulkan di sekitar Tjallae-ri-abeo, terdiri dari orang-orang dari Udjung, Ponljeng, Ta, Katumping, Panda Tjanga en Madello. Tjallae-ri-abeo ini dilakukan oleh Kadjao Arasang.

Setelah Waromporong hilang ia digantikan oleh Samparaja yang merupakan lambang kerajaan

 

Tjallae-ri-Atau dan atau Tjellae-ri-Abeo berwarna merah, dengan yang terbuat dari beludru hijau. Didihiasi dengan rambut orang-orang dari Seram tewas dalam perang.

Kedua bendera tersebut di atas, dibuat pada pemerintahan dari Lasaliwu Karampeluwa, raja Bone ke-3. Pada saat digunakan harus ditampilkan di kedua sisi Waromporong, bendera Manurung-ri Matajang (1350-1366). Kemudian mereka harus ditampilkan di kedua sisi Samparadjae tersebut.

   LAMANGOTONG 

Panji Lamangotong


The Royal / Panji Lamangotong adalah kain putih dengan border dihias dan breadths hitam sempit di ujung tiang-dan sisi atas. Tersebut terhubung dengan tombak. Namanya berarti “ular-ular yang menyerang” (musuh).
Sebuah legenda mengatakan:

“Arung Palakka sedang berperang dengan Wajo dan telah kehilangan Samparaja ketika ia memiliki ide untuk menampilkan saputangan, berteriak bahwa Samparaja bukan hanya panji Bone. Melihat hal ini orang-orang dari Bone melanjutkan serangan mereka dengan semangat sehingga mereka merebut kembali panji mereka. “

 STEMPEL KERAJAAN BONE

Stempel Kerajaan Bone


Tiga perak segel tergantung dari rantai perak kecil. yang di sebelah kiri menyandang nama To-ri-Sompae Arung Palakka. Di satu di tengah adalah suatu prestasi yang mungkin merupakan prestasi pertama pemerintah kerajaan. Ini menunjukkan seorang pria tiga perempat berdiri menjaga ular di tangannya. Pada perisai, didukung oleh dua singa atau harimau, adalah mahkota tujuh daun yang merupakan mahkota baronet.

Pada ketiga adalah sosok yang mungkin delapan berdaun teratai-bunga, dibebankan dengan sepasang kompas dan sebuah lingkaran.   

LAMBANG GARUDA 

Bendera Kerajaan Bone


Banner Garuda merupakan kain sutra putih diisi dengan Garuda dengan dua ular di tangannya dan berdiri di ular lain. Di sudut empat harimau.
Bendera ini adalah mitra atau pasangan  dari Kasitanganga.
Pada waktu Kasitanganga sebagai Standar Nasional, maka Banner Garuda adalah sebagai Bendera Negara karena menampilkan pesawat Garuda yaitu kendaraan penguasa dan simbol negara dalam simbolisme politik Buddha.
Emblem: Garuda menginjak ular yang tepat.
Pendukung: (Empat) harimau.)
Harimau mungkin lambang prajurit peringkat tertinggi Bone, sehingga membuat pencapaian: “. Pemerintah dengan rahmat komandan Agung”

PERISAI / TAMENG

Perisai  / Tameng

  Perisai perak dengan medali emas di tengah, biasanya ditampilkan dengan keris kecil. Perisai ini digunakan prajurit kerajaan Bone  pada waktu  sedang perang 

Senjata Kerajaan 

Keris La-Makkawa

Ini keris, sebuah pusaka penting dari Kesultanan Bone, memiliki selubung khas Sulawesi dengan ujung datar, pendek (selubung terluar) dari kawat emas dibungkus dikepang dengan  permata. Keris La-Makkawa adalah milik Arung Palakka. Menurut  legenda, bahwa keris La-Makkawa tak bisa disentuh oleh lawan apalagi merebutnya  akan tetapi siapapun  lawan yang terkena olehnya akan mengalami maut dan kematian. sehingga dinamai La-Makkawa ( artinya tidak bias disentuh oleh lawan). Keris La-Makkawa masih tersimpan dengan baik di museum Arajangnge Bone dan dibersihkan setiap setahun sekali pada saat peringatan hari jadi Bone


Pedang La-Teariduni

Pedang La-Teariduni adalah berselubung warna perak dan emas
Menurut Legenda : La-teariduni milik seorang pangeran bernama Arung Alitta. Beliau  memutuskan bahwa pedang miliknya  harus dikuburkan bersamanya pada saat kematiannya.
Tentu saja keluarganya melakukan seperti yang beliau  inginkan Pada saat kematiannya Pedang La-Teariduni ikut dimasukkan dalam duni etapi hari berikutnya pedang La-Teariduni tidak ada di dalam duni melainkan didapati berbaring di atas  makamnya.
Para kerabat, untuk mematuhi perintah-Nya  pedang La-Teariduni dikuburkan  kedua kalinya tetapi beberapa hari kemudian lagi-lagi ditemukan di atas makam sang pangeran.
Akhirnya keluarga kerajaan  mengatakan bahwa itu adalah keinginan Tuhan bahwa pedang tidak harus dikubur tetapi harus dipertahankan selama-lamanya sebagai peninggalan kerajaan.Pedang La-Teariduni setara dengan pedang Eropah seperti Joyeuze Perancis, Szerbice dari Jerman. Pedang La-Teariduni masih tersimpan dengan baik di museum Arajangnge Bone dan dibersihkan setiap setahun sekali pada saat peringatan hari jadi Bone


 SumberPerpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here