WAJU TOKKO BAJU TRADISIONAL BUGIS

0
3
Waju Tokko biasa juga disebut Waju Ponco’ seperti baju adat pada umumnya, memiliki ciri khas yang unik, apalagi mengingat umurnya sudah sangat tua, pasti ada saja perbedaan dan keunikan dari Waju Tokko sejak tahun 1840-an hingga saat ini.
Baju adat Bugis Bone atau Waju Tokko bentuknya segi empat dengan lengan pendek yakni setengah atas di bagian siku lengan. Dahulu, Waju Tokko dapat dikenakan tanpa menggunakan penutup payudara, kondisi ini sempat diperhatikan oleh James Brooke (Raja Putih Sarawak Pertama) (1841-1868) disaat beliau mengunjungi istana Bone tahun 1840, kerajaan Bone pada saat itu dipimpin Raja Ke-26 La Mappaseling (1835-1845).
Para perempuan Bugis biasanya mengenakan pakaian sederhana, yakni sehelai sarung yang menutupi pinggang hingga kaki mereka dengan baju tipis yang longgar yang terbuat dari kain kasa yang memperlihatkan payudara serta lekuk dada. Cara mengenakan baju bodo seperti itu masih berlaku hingga tahun 1870-an, pada masa pemerintahan Raja Bone ke-29 La Singkeru Rukka (1860-1871).
Namun pada pemerintahan selanjutnya Bone dipimpin oleh seorang perempuan yang dikenal dengan nama We Fatimah Banri sebagai Ratu Bone ke-30 (1871-1895) Waju Tokko atau Waju Ponco’ mengalami perubahan bentuk dan cara pemakaiannya yang lebih sopan dan beradat. Dari sinilah berawal sehingga Waju Tokko disebut juga Waju Ponco’.
Pada masa pemerintahan We Fatimah Banri, Waju Tokko dibuat menjadi lebih panjang hingga batas tumit dan lengannya tetap sebatas antara siku dan bahu, dan cara pemakaiannya menggunakan baju pelapis dalam sehingga tidak taransparan yakni tidak tampak lagi payudara serta lekuk dada.
Baju adat Bugis Bone ini seringkali dikenakan untuk menghadiri upacara adat istiadat baik yang sifatnya formal maupun semi formal, seperti upacara pernikahan, perayaan hari jadi Bone, dan acara lainnya. Akan tetapi, saat ini Waju Tokko atau Ponco’ mulai digunakan untuk acara lainnya, seperti lomba menari juga untuk menyambut tamu penting yang agung.
Namun sayangnya, saat ini makin sedikit wanita yang mengenakan Waju Tokko, mereka lebih suka mengenakan pakaian yang simpel untuk menghadiri upacara pernikahan seperti mengenakan kebaya modern. Waju Ponco atau Waju Tokko biasanya dipakai oleh mempelai perempuan di dalam resepsi pernikahan maupun akad nikah, tidak terkecuali juga Passeppi-nya yaitu pendamping dari mempelai, yang kebanyakan adalah anak-anak, termasuk juga pagar ayu.
Kombinasi dari variasi baju adat Bugis Bone atau Waju Tokko saat ini, sudah terbukti dapat diterima oleh tiap kalangan serta lapisan masyarakat Bone, Indonesia, dan dunia. Baju Tokko bukan sekadar pakaian adat, namun juga bisa dikenakan sebagai pakaian formal untuk menghadiri acara formal, bahkan beberapa wanita seringkali mengenakan Waju Tokko sebagai busana kerja mereka seperti halnya menyambut perayaan hari jadi Bone dari tahun ketahun.
Bila Anda liburan ke Bone, jangan lupa untuk melihat bahkan kalau bisa mencoba Waju Tokko, pakaian adat Bugis Bone ini yang tampak cantik, anggun, menawan, dan unik, dengan ciri khas warna yang menarik, serta bisa menjadi kenang-kenangan sebagai bukti bahwa Anda pernah ke Bone.
Menurut Andi Najamuddin Petta Ile (75 tahun) seorang Budayawan Bugis, Sekretaris Lembaga Adat Bone yang dikenal juga sebagai penyusun Tata Cara Pernikahan Adat Bugis ini mengatakan, bahwa sebenarnya Waju Tokko atau Waju Ponco’  pada zaman dahulu, hanya terdiri atas 6 (enam) warna saja. Masing-masing warna mengandung makna tertentu, antara lain :
1. Warna Hijau, hanya dapat dipakai oleh putri-putri bangsawan;
2. Warna Merah Lombok, hanya dipakai oleh gadis remaja pada umumnya;
3. Warna Merah Tua, hanya dipakai oleh wanita yang telah menikah;
4. Warna Ungu, hanya dapat dipakai oleh para janda;
5. Warna Hitam, hanya dipakai oleh orang tua/wanita yang tergolong usia lanjut; dan
6. Warna putih, hanya dapat dipakai oleh inang pengasuh (Indo’ Pasusu) dan para Sandro.
Namun dewasa ini, menurut Andi Najamuddin Petta Ile warna baju tersebut (baju yang dipakai) tidak lagi melambangkan suatu strata sosial si pemakainya, artinya hanya disesuaikan dengan selera si pemakainya saja, bahkan sudah keluar dari bingkai budaya. Beliau menganjurkan sebagai bentuk simbolis dan bisa menjadi bahan edukasi bagi penerus, selayaknya pemakaian Baju Tokko ini tetap dilestarikan begitu juga cara penggunaannya. Warna Waju Tokko bisa menjadi pendeteksi apakah ia masih gadis remaja, apakah ia telah menikah, apakah ia janda, orang tua, dan sandro.
Sumber : BUDAYAWAN BUGIS BONE : ANDI NAJAMUDDIN PETTA ILE
Ditulis oleh  Mursalim

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here