ULU ADAE RI TAMALATE, PERJANJIAN BONE-GOWA, KISAHMU DULU

0
3
ULU ADAE RI TAMALATE, PERJANJIAN BONE-GOWA, KISAHMU DULU

ULU ADA (bahasa Bugis) atau ULU KANA (bahasa Makassar) berarti PANGKAL PEMBICARAAN. Kata ini dimaknai sebagai PERJANJIAN.
Unsur kalimat yang digunakan untuk menamai suatu perjanjian antar raja dan kerajaan, umumnya menggunakan kata ULU (Kepala) dan CAPPA’ (Ujung). Penggunaan dua kata ini menegaskan bahwa perjanjian yang dilakukan bukanlah suatu hal yang main-main, karena itu harus sama-sama ditaati. Orang atau raja yang melanggar perjanjian biasanya akan diumpat sebagai seseorang yang tidak punya kepala (dalam bahasa Bugis disebut ULU).
Sering kita mendengar ungkapan Bugis yang menyatakan, “ TAU TEMPEDDING RIAKKATENNING CAPPA’ LILANA atau dalam bahasa Makassar TAU TENA KULLE RITETENG ULU KANANNA. Dalam bahasa Indonesia, kedua ungkapan itu adalah ORANG YANG TIDAK DAPAT MEMEGANG KATA-KATANYA yang bermakna umpatan terhadap seseorang yang tidak bisa dipegang kata-katanya.
ULU ADA merupakan suatu perjanjian bukan sekadar memegang kata-kata, tetapi juga memegang adat atau pangngadereng karena adat menganjurkan seseorang itu LEMPU dan GETTENG.
Di kalangan Bugis-Makassar seseorang yang melanggar perjanjian dapat diumpat sebagai seseorang yang juga tidak beradat.
Itulah sebabnya dalam perjanjian persahabatan atau gencatan senjata, selalu dimasukkan pasal-pasal agar yang berjanji sama-sama memegang teguh adat masing-masing dan tidak merusak adat negeri lain.
Biasa pula diungkapkan dengan bahasa, TESSICINNAIYYANG WARAMPARANG SAISANNA ULAWENG WATASA ( Tidak menginginkan dan mencampuri urusan dalam negeri masing-masing atau saling intervensi), karena tiap negeri punya adat yang berbeda, termasuk diantaranya tidak boleh mencampuri pewarisan takhta ULAWENG MATASA PATTOLA MALAMPE-E ( Harta dan Warisan Generasi).
Perjanjian ULU ADAE RI TAMALATE atau ULU KANAYYA RI TAMALATE terjadi pada masa pemerintahan raja Bone ke-6, La Uliyo Bote’e Matinroe ri Itterung (1519 – 1544) dan raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapakarisika Kallonna (1512-1548).
Perjanjian ULU ADAE RI TAMALATE tepatnya terjadi pada Tahun 1540 ini merupakan perjanjian persahabatan antara GOWA dan BONE. Pasal-pasal dalam perjanjian ini melukiskan betapa indahnya persaudaraan antara BONE dengan GOWA, yakni dua kerajaan terkemuka penguasa semenanjung Barat dan Timur Jazirah Selatan Sulawesi.
Namun sayangnya, masa damai antara keduanya hanya berlangsung selama 24 Tahun (1538-1562), sebelum terjadinya serangan militer pertama Gowa ke Bone pada tahun 1562 yang didahului dengan peristiwa MASSAUNG MANU’ (Sabung Ayam) di mana pada waktu itu pertarungan mematikan , MANU’ BAKKANA BONE vs JANGANG EJANA GOWA yang berakhir dengan kemenangan Bone.
Sebagaimana perangnya yang luar biasa, masa perang Gowa Vs Bone berlangsung dari tahun 1562-1611 sampai tiba masanya Arung Palakka menggunakan strategi perangnya dengan menggandeng Speelman (Belanda) membebaskan Bone dan Soppeng dari Penjajahan Gowa. Dan sebelumnya persahabatan antara Gowa dan Bone juga sangat luar biasa.
Peristiwa pembukaan hubungan diplomatik pertama antara Gowa dan Bone (1538) bahkan diupacarakan dengan acara memperhadapkan SENJATA SAKTI kedua kerajaan.
Kalewang LATEA RIDUNI dari Bone dan Kalewang Kalompoang SUDANGA dari Gowa. Hubungan diplomatic ini berlangsung di LACCOKKONG (Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete Riattang sekarang ini). Di mana pada waktu itu raja Gowa untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Tana Bone. Selanjutnya kunjungan balasan raja Bone, La Uliyo Bote’e ke Gowa inilah yang kemudian melahirkan ULU ADAE RI TAMALATE.
Adapun isi perjanjian ULU ADAE RI TEMALATE atau ULU KANAYYA RI TAMALATE yang sangat sakral dan luar biasa itu adalah sebagai berikut :
1. NAREKKO ENGKA PERINA BONE, MADDAUNGNGI TASIE NAOLA MANGKASAE, NAREKKO ENGKA PERINA GOWA MAKKUMPELLE’I BULU-E NAOLA TO BONE-E (Jika Bone terancam bahaya musuh, maka berdaunlah lautan yang dapat dilalui orang Makassar, Jika Gowa terancam bahaya musuh maka ratalah gunung menjadi jalanan dilalui orang Bone).
2. TESINAWA-NAWA MAJAKI’, TESSIPATINGARAI KENNA BONE-GOWA, TESSICINNAIYYANGNGI ULAWENG MATASA’ PATTOLA MALAMPE (Takkan saling berprasangka buruk, takkan saling menyerang, Bone-Gowa, dan tidak akan mencampuri urusan dalam negeri masing-masing baik takhta maupun warisan hingga generasinya).
3. IYASSISOMPERENGNGI GOWA, IYASSISOMPERENGNGI BONE, IYASSIMANARI ADA TORIOLOE (Siapa saja yang melayarkan bahtera Gowa, maka dialah yang mewarisi amanat leluhur ini dan siapa saja yang melayarkan bahtera Bone, maka dialah yang mewarisi amanat leluhur ini).
4. NIGI-NIGI TEMMARIENGNGERANG RIADA TORIOLOE, MAREPPA’I URIKKURINNA, LOWA-LOWANA, PADAI TELLO RIABBUSSUANGNGE RI BATUE (Siapa saja yang tidak mengingat amanat leluhur ini maka pecahlah Periuk-Belanganya, seperti telur dihempaskan ke atas batu).
Perjanjian ULU ADAE RI TEMALATE atau ULU KANAYYA RI TAMALATE yang digagas raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’e ini merupakan suatu perjanjian yang luar biasa, butir-butir perjanjian ini seandainya dilaksanakan oleh penerus takhta Gowa dan Bone, sejarah akan bercerita lain. Namun, kata banyak orang, perjanjian memang dibuat untuk dilanggar, seperti halnya perjanjian bilatateral masa kini, Iya, JANCI MUTALE’E, MAJJANCI TADDE^ LESSE PECA^
Oleh : Mursalim

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here