ULU ADAE RI CALEPPA, KONSEKUENSI PERJANJIAN TERLANGGAR

0
2
ULU ADAE RI CALEPPA, KONSEKUENSI PERJANJIAN TERLANGGAR

ULU ADAE RI CALEPPA TAHUN 1565, adalah buntut perjanjian ULU ADAE RI TAMALATE (1540) yang terlanggar serta AKIBAT atas penyerangan Gowa terhadap Bone. Penyerangan Gowa terhadap Bone bermula ketika I TAJI BARANI DAENG MAROMPA adalah saudara kandung Raja Gowa ke-10 I MANRIWAGAU DAENG BONTO.
Dalam perjalanan sejarah yang panjang tercatat dalam Lontara’ BULO-BULO bahwa Kerajaan Tellu Limpoe telah mengalami percaturan kekuasaan antar kerajaan-kerajaan Tellu Poccoe. Khususnya perebutan hegemoni antara Gowa dan Bone pada abad ke-16 dan ke-17 termasuk memperebutkan wilayah dan dominasi atas Kerajaan Tellu Limpoe. Hal ini disebabkan karena Kerajaan Tellu Limpoe mempunyai nilai strategis dalam ekonomi dan politik di Teluk Bone.
Kerajaan Tellu Limpoe yang meliputi daerah Kabupaten SINJAI sekarang ini,diperkirakan telah terbentuk sejak pertengahan abad ke-16, atas keputusan bersama antara Raja Tondong ke-7 Iyottong Daeng Marumpa, raja Bulo-Bulo Lamappasoko Lari Manoe Tanru’na, dan Raja Lamatti La Padenring Tadangpalie atas anjuran Raja Bone ke-7 La Tenri Rawe Bongkange Matinroe ri Gucinna.
Keputusan bersama tersebut ditandai dengan batu peringatan yang lebih dikenal dengan istilah “LAMUNG PATUE RI TOPEKKONG ” sekitar tahun 1564, yang intinya adalah : (Rakyat masing-masing kerajaan (Tondong, Bulo-Bulo, Lamatti) bebas memilih tempat pemukiman begitupula mencari penghidupan yakni bertani atau bercocok tanam. Sesungguhnya rakyat hanya satu, rakyat Tellu Limpoe. Hanya yang membedakan adalah arah mana ia bawa hasil padinya. Saling ingat memperingati, bantu membantu dalam kebaikan dan tidak saling mencari kekurangan diantara mereka agar tidak timbul perpecahan.
Dengan keputusan bersama tersebut maka terbentuklah apa yang dinamakan kerajaan Tellu Limpoe yang dalam perkembangannya erat kaitannya dengan Kerajaan Bone, baik karena hubungan geologis bagi raja-raja yang memerintah di kedua kerajaan tersebut maupun karena hubungan di antara kerajaan yang bertetangga.
Kerajaan Tellu Limpoe yang dikenal pula sebagai kerajaan yang “MABBULO SIPEPPA ” yang berarti bersatu kukuh, merupakan sahabat dari kerajaan Bone dan merupakan BATU PENGHALANG bagi Gowa sebelum langsung menyerang Bone. Karena itu, kerajaan Tellu Limpoe merupakan kerajaan “PALILI PASSIAJING” dengan kerajaan Bone.
Pada masa pemerintahan raja Gowa ke-10 Lapakkoko Topabbele serta panglima perangnya La Mungkace Taudamang menyerang Kerajaan Tellu Limpoe, kendati kerajaan Tellu Limpoe di bawah rajanya masing-masing Raja Tondong (Iyottong Daeng Marumpa), raja Bulo-Bulo (Lamappasoko Lari Manoe Tanru’na), dan Raja Lamatti (La Padenring Tadangpalie) dengan segalah keberanian dan usahanya untuk membendung serangan Gowa dan Wajo ini tidak berhasil menyebabkan kerajaan tersebut menyerah pada tahun 1564.
Namun kekalahan ini tidaklah berarti bahwa kerajaan Gowa telah berhasil, karena ternyata peperangan berlangsung terus menerus dengan kerajaan Bone. Pada saat itu kerajaan Bone di bawah pimpinan raja Bone VII La Tenri Rawe Bongkange Matinroe ri Gucinna.
Dekatnya hubungan kerajaan Bone dengan kerajaan Tellu Limpoe, yang melahirkan kesepakatan “Lamung Patue ri Topekkong” membuat Gowa gusar sehingga Gowapun menyerang Bone. Pertempuran pun tak terhindarkan antara kedua belah pihak.
Adalah I TAJI BARANI DAENG MAROMPA lahir pada tahun 1517 M. Tahun 1565 diangkat menjadi Raja Gowa menggantikan saudaranya untuk menjadi Raja Gowa ke-11 Karaeng Tunipallangga Ulaweng.
I TAJI BARANI DAENG MAROMPA mengikuti jejak kakak dan ayahnya, memperluas wilayah Kerajaan Gowa sampai ke Pangkajene dan Sidenreng. Ia baru 20 hari bertahta sebagai Raja Gowa, ia berangkat ke Bone dengan kekuatan senjatanya, Pertempuran antara pasukan Kerajaan Gowa dan Bone terjadi di daerah PAPPOLO (Sekarang Kelurahan Pappolo kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone).
Pasukan Kerajaan Bone berhasil dipukul mundur sampai ke Benteng pertahanannya. Pasukan Kerajaan Gowa terus menyerang jantung pertahanan Kerajaan Bone. BUKAKA pun dibakar (sekarang kelurahan Bukaka kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone).
Namun pada minggu ketiga setelah pasukan Gowa mengundurkan serangan, tiba-tiba datang serangan dari pasukan elit Bone yang jauh lebih besar. Mereka menghantam Pasukan Gowa yang dipimpin I TAJI BARANI DAENG MAROMPA. Salah seorang PASUKAN INITI BONE berhasil mendekati I TAJI BARANI DAENG MAROMPA dan kemudian meletakkan KALEWANG di kepalanya membuat I TAJI BARANI DAENG MAROMPA jatuh bersimbah darah dan mati seketika itu juga.
Dalam kondisi demikian pasukan Gowa tak berdaya dan terpaksa mundur menyelamatkan diri. Selanjutnya I TAJI BARANI DAENG MAROMPA yang hanya bertahta selama 40 hari itulah kemudian mendapat gelar anumerta KARAENG TUNIBATTA (Raja yang ditetak).
Atas izin dan jiwa kenegarawan Raja Bone ke-7 LA TENRIRAWE BONGKANGNGE MATINROE RI GUCINNA dan usaha dari penasihat Raja Bone LAMELLONG KAJAO LALLIDDONG maka jenazah I TAJI BARANI DAENG MAROMPA dipulangkan ke Gowa dan dimakamkan di Bukit Tamalate tepatnya di Makam Sultan Hasanuddin sekarang.
Berselang beberapa hari kemudian, diadakan perjanjian perdamaian antara Gowa dan Bone di Caleppa. Bone diwakili oleh Raja Bone La Tenrawe Bongkangnge dan Gowa diwakili oleh Mangkubuminya I Mappatakattana Daeng Padulung. Perjanjian kemudian lebih dikenal dengan nama ULU ADAE RI CALEPPA atau ULUKANAYA RI CALEPPA TAHUN 1565 yang isinya antara lain :
1. Bone meminta kemenangan-kemenangan, yaitu kepadanya harus diberikan daerah-daerah sampai Sungai Walanae di sebelah Barat dan sampai di daerah Ulaweng di sebelah utara.
2. Sungai Tangka terletak diperbatasan Bone dan Sinjai, akan tetapi perbatasan daerah Bone dan Gowa yaitu sebelah Utara masuk Bone dan sebelah Selatan masuk Gowa.
3. Supaya negeri Cenrana masuk daerah kekuasan Bone karena memang dahulu Cenrana telah ditaklukkan oleh raja Bone ke-5 La Tenrisukki maka sebagai hasil kemenangan dalam peperangan melawan raja Luwu bernama Raja Dewa yang sudah sekian lama menguasai Cenrana.
Itulah berbagai bentuk diplomasi yang terjadi diantara kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan dimasa lalu sebagaimana apa yang terjadi antar negara pada zaman modern ini baik bilateral maupun multilateral. Sejarah tidak perlu dipertentangkan, namun sebagai ANA’ PATTOLA (generasi penerus) petiklah hikmahnya untuk membangun kebersamaan dan perdamaian yang hakiki, ALANGKAH INDAHNYA.
Oleh : Mursalim

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here