NILAI-NILAI DI BALIK “ KONSEP MATTULU TELLUE “

0
1
NILAI-NILAI DI BALIK “ KONSEP MATTULU TELLUE “

Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki ciri khas yang menjadi JATIDIRI mereka. Dalam mempertahankan jati dirinya tersebut, mereka senantiasa berupaya mencari cara sedemikian rupa demi untuk mempertahankan eksistensi kelompok atau sukunya. Mereka berusaha menciptakan suatu tatanan prinsip yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam segala tindakan baik bersifat pribadi maupun kelompoknya.
Dengan tujuan, agar apa yang diharapkan dalam tindakannya dapat mendapatkan hasil yang diharapkan dan mendapat apresiasi baik dalam kelompok sukunya sendiri maupun di luar kelompok suku bangsanya. Mereka meyakini, bahwa dengan memiliki prinsip sebgai pegangan maka segala yang kita lakukan tidak akan kesasar dan mengambang, disamping prinsip itulah yang jadikan sebagai alat motivasi dalam melakoni hidup disegala bidang
Demikian pula orang Bugis sejak dahulu kala telah memiliki prinsip-prinsip hidup yang dijadikan sebagai perisai dalam menjaga keberlangsungan norma-norma adab yang dimilikinya. Perisai yang dimaksud adalah prinsip-prinsip yang dijadikan sebagai Motto dalam melindungi norma-norma adat-istiadatnya sebagai pegangan hidup dalam menjalankan segala aktivitasnya.
Pada masa pemerintahan Arung Palakka disebutkan: “ RIWETTU PUATTA PETTA MALEMPE-E GEMME’NA PAOPPANG PALENGENGNGI TANA BONE PADA TOHA KETENG TEPU SEPULO LIMA OMPONA ( Sewaktu raja Bone Petta Malampe-E Gemme’na berkuasa, maka tanah Bone pada waktu itu seumpama bulan, cerah bagaikan bulan purnama yang terbit sempurna kelima belas”.
Lalu masihkah hari ini, para genarasi (Ana’ Rimunrie/Ana’ Pattola) menampakkan taring kebesaran itu? Adakah kegairahan untuk belajar pada masa silam ? Bukankah potret sejarah masa depan adalah bertaut dengan rangkaian sejarah masa lalu dan apa yang kita gurat pada jejak masa kekinian?
Berbicara tentang Bugis juga selalu identik dengan Bone. Peradaban Bugis pada masa silam adalah peradaban besar dan gemilang yang memiliki daya tarik tersendiri bahkan seorang penulis asal Prancis: Christian Pelras rela menghabiskan 2/3 umurnya hanya untuk meneliti kebudayaan Bugis dan mengasilkan buku ‘The Bugis’, yang diperoleh dari hasil penelitian dan penelusuran dokumen yang berlangsung selama 40 tahun (1950-1990).
Memang fenomenal, seorang manusia Prancis, rela terjun selama puluhan tahun hanya untuk meneliti kebudayaan orang lain. Sesuatu yang jarang dijumpai di Indonesia, lebih-lebih di kalangan peneliti lokal sendiri.
Dari asumsi tersebut, terselip harapan untuk kembali melestarikan spirit KEBUGISAN kita. Karena di sana ada kearifan hidup, ada spirit keberanian dan ketangguhan melawan hidup. Nenek moyang di masa lalu telah menawarkan spirit ketangguhan dan keberanian hidup. Mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan dalam mengarungi hidup. Bukankah kearifan itu masih tersisa dalam jejak yang ditinggalnya dalam sastra petuah PAPPASENG ?
Nah, masih adakah jiwa dan semangat ke TO-BONE-AN hari ini, ketika generasi PATTOLA tidak lagi mengenal spirit kearifan hidup leluhur yang tercatat dalam sastra Pappaseng? Masih adakah Bugis Bone hari ini ketika generasi muda mulai tak fasih lagi bertutur bahasa Bugis dalam kesehariannya? Tidakkah hari ini generasi mulai malu menggunakan bahasanya sendiri karena merasa tidak sesuai dengan trend? Benarkah generasi sekarang ini … Aduh, tak mampu lagi menulisnya di sini melihat fenomena yang ada.
Coba bayangkan, Christian Pelras saja yang bukan orang Bugis tapi mampu bertutur bahasa Bugis dengan fasih pada waktu memberikan ceramah umum tentang Manusia Bugis (26/09/2006). Mungkian suatu saat ketika para generasi ingin belajar bertutur Bugis dan belajar tentang Bugis kita harus belajar di negeri Eropa sana ?. He….he….. Ironis sekali.
Bugis mungkin suatu hari nanti hanyalah sebuah predikat yang malas kita sandang. Bukankah generasi kini lebih tahu tentang Putri Diana, lebih menguasai riwayat hidup Ronaldo dibandingkan riwayat Arung Palakka, Kajao Lalliddong atau leluhur lainnya? Arus modernisasi dan neo-liberalisme begitu kuat mencengkram generasi Bugis masa kini.
Ketika melihat fenomena budaya yang berkembang di masyarakat Bone khususnya dikalangan generasi muda. Ada beberapa pertanyaan sederhana yang sebenarnya mengandung makna keprihatinan atas fenomena tersebut. Berapa banyak anak muda Bone yang bisa bercerita lengkap tentang sejarah Bone? Sejauh mana anak muda Bone tahu tentang tokoh-tokoh di balik kebesaran kerajaan Bone?
Berapa banyak anak muda Bone yang bisa menulis dan membaca AKASARA LONTARA dengan baik? Berapa banyak anak muda Bone yang bisa berbahasa Bugis dengan bahasa yang halus? Berapa banyak anak muda yang hafal dan mengamalkan pesan-pesan leluhur (Pappaseng To Riolo)?
Apakah perilaku generasi Bone saat ini telah mencerminkan sikap-sikap (Mappakkeade’) seperti yang dulu dimiliki para pendahulunya? Dan masihkan ikatan emosional RIASSIBONEI terjalin dengan harmonis antara sesama warga Bone di dalam dan luar daerah?
Kami tidak ingin memberikan jawaban dan penilaian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Yang jelas dengan menumbuhkembangkankan jiwa dan semangat ke To Bone-an, sangatlah urgen dan strategis untuk dilakukan. Karena diakui atau tidak, saat ini masyarakat dunia termasuk masyarakat Bone hidup dalam kecenderungan yang bersifat global.
Pergeseran nilai budaya yang semakin tajam, kecilnya dunia berkat sistem komunikasi dan transformasi yang semakin canggih telah memberikan makna kehidupan manusia ke arah yang lebih maju dan modern.
Dalam situasi dan kondisi seperti ini, bukan hal yang mustahil semangat dan budaya kedaerahan (ke-to Bone-an) akan semakin terkikis atau mungkin hilang dari sanubari masyarakat Bone, terkhusus di kalangan generasi muda (ana ri munri) yang memang jarang tersentuh dengan gagasan–gagasan , kegiatan-kegiatan (aktivitas) dan penelusuran peninggalan sejarahnya.
Sejatinya, Bugis Bone (Wija To Bone) tidak sekadar mengaku dan diakui sebagai orang Bone lantaran lahir di Tana Bone. Akan tetapi, lebih jauh mereka seharusnya memahami sejarah lelulur, serta memahami kebudayaan Bone dan mengimplementasikannya nilai-nilai spirit kearifan hidup, spirit keberanian, dan ketangguhan menjalani hidup. Berpegang pada Pesan Leluhur, yakni : MAKKATENNI RI LIMAE PASSALENG, IYANARITU :
1. Riada TongengngE;
2. RilempuE;
3. Rigettengng-E.
4. SipakatauE,
5.Mappesonae ri Dewata SewwaE.
Mari kita memasuki substansi pembicaraan. MATTULU TELLUE berasal dari kata “SITULU TELLU” dalam bahasa Bugis berarti SALING BERTAUT TIGA yang disimbolkan sebagai tali. Kemudian melahirkan kata MATTULU TELLUE (Mabbulo Sipeppa’) yang artinya sesuatu atau tali yang bertaut tiga yang dijadikan sebagai simbol kesatuan, keutuhan dan kekuatan.
Dalam bahasa Makassar disebut MABBULO SIBATANG, yakni tiga batang dijadikan menjadi satu. Dengan menggabungkan tiga buah batang menjadi satu kesatuan dapat membentuk sebuah kekuatan.
Baik Mattulu Tellue ataupun Mabbulo Sipeppa/Mabbulo Sibatang merupakan sesuatu yang abstrak namun di dalamnya sarat dengan makna simbolis dalam kesatuan yang dijadikan sebagai motivasi dalam semangat hidup.
Dikalangan Bugis Bone, Konsep MATTULU TELLUE sudah digunakan dimasa pemerintahan raja Bone ke-7 Latenri Rawe Bongkangnge (1568-1584) . Konsep ini dipopulerkan oleh sang diplomat ulung dari Tanah Bone Kajao Lalliddong. Beliau banyak menciptakan dan melahirkan konsep-konsep kepemimpinan sebagai norma-norma adab yang dijadikan sebagai anutan oleh raja dalam menjalankan roda pemerintahannya. Seperti berikut ini ;
1.Tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai;
2.Tidak memejamkan mata siang dan malam;
3. Menganalisis sebab akibat suatu tindakan sebelum dilakukan; dan
4. Raja harus mampu bertututur kata dan menjawab pertanyaan.
Dalam menjaga eksistensi norma-norma adab di atas mereka membangun sebuah prinsip yang dijadikan sebagai perisai yakni MATTULU TELLUE antara lain :
1. SIATTINGLIMA, yang artinya bergandengan tangan. Maksudnya : apabila sesuatu pekerjaan dilakukan secara bersama-sama, maka ringanlah pekerjaan itu
2. SITONRAOLA, yang artinya berjalan searah, satu kata dalam mufakat. Maksudnya : Sesuatu permasalahan harus diputuskan dengan musyawarah dan mufakat
3. TESSIBELEANG, yang artinya tidak saling menghianati. Maksudnya : Segala sesuatu yang telah dimufakati sebagai keputusan maka siapapun harus menaatinya.
Pada hakikatnya jauh sebelum pemerintahan Latenri Rawe Bongkangnge nilai-nilai semangat MATTULU TELLUE telah ada pada masa pemerintahan Raja Bone ke-1 Manurungnge ri Matajang dalam menyatukan rakyat Bone pada masa itu namun kata Siattinglima, Sitonraola, Tessibelleang dipopulerkan oleh Kajao Lalliddong
Dimasa pemerintahan raja Bone Ke-15 Arung Palakka (1667–1696) beliau juga melahirkan konsep kebersamaan dengan semangat kebugisan, yaitu : MALILU SIPAKAINGE’, MALI SIPARAPPE’, REBBA SIPATOKKONG (Terlupa saling mengingatkan, Rubuh saling menegakkan, Terlupa saling ingatkan). Namun yang paling popular adalah TELLABU ESSOE RI TENGNGA BITARAE (Takkan Tenggelam Matahari di Tengah Langit).
Pada artikel sebelumnya, dijelaskan tentang “Amporo atau Makkamporo” atau “Aja’ Muakkamporo” yaitu telur yang gagal menetas. Maksudnya apabila kita menghadapi atau melakukan suatu pekerjaan janganlah berhenti di tengah jalan. Hal ini setara dengan “ Kambacu” Aja’ Muakkambacu” . Dalam bahasa Bugis Kambacu adalah biji jagung yang digoreng namun gagal menjadi berti atau mekar. Konsep inilah juga yang dijadikan Arung Palakka sebagai penyemangat dalam membebaskan rakyat Bone yang dijadikan sebagai pekerja rodi oleh Gowa pada masa itu.
Kosakata Bugis memang banyak memiliki nilai dan makna yang sama meskipun dengan ungkapan yang berbeda seperti ungkapan-ungkapan di atas. Dari sekian banyak itu semua terangkum dalam satu kesatuan dalam motto SUMANGE’ TEALLARA’ (teguh dalam keyakinan kukuh dalam kebersamaan). Kita berharapa nilai-nilai SUMANGE’ TEALLARA’ dapat menjadi tameng dalam mempertahankan kehebatan semangat Mattulu Tellue secara berkesinambungan di Tana Bone.
Kebesaran Bone di masa lalu adalah spirit kehidupan, gerak kualitas peradaban, namun ia baru berarti ketika filosofi agungnya sebagai pondasi dasar dan tetap utuh dianut serta dipegang teguh oleh Pattolana (generasinya)
Ketika kita kembali meneropong masa Ialu, menguak tabir jejak-jejak sejarah gemilang moyang kita, sejatinya dijadikan sebagai bahan renungan kita semua. Hal ini bukan berarti untuk mengevaluasi apa lagi untuk memberikan penilaian, akan tetapi semata-mata berniat sebagai GELITIK LUHUR dan BAHAN RENUNGAN bagi kita semua akan pentingnya munumbuhkan kembali jiwa dan semangat ke To-Bone-an, yaitu : ”Mattulu Tellue/Mabbulo Sipeppa/Mabbulo Sibatang, yakni : Malilu Sipakainge, Mali Siparappe,Rebba,Sipatokkong”
SEBAGAIMANA PESAN MOYANG KITA:
“Seratu’ Ada Seddi Gau’, Gau’E Mappattentu., Ininnawa Mappabati Sadda, Sadda Mappabati Ada., Ada Mappabati Gau.,Gau Mappabati Tau., Tau Sipakatau Sipakalebbi.
Mappoada Mappaddupa Gau, Sitonrai Lilae na Batela-E, Nasaba Engka Siri’ta Nennia Pesseta “siri mi rionroang ri lino naiyya Siri-E Nyawa nakira-kira nenniya Sunge’ Naranreng”, Nassibawai Wawang ati macinnong, lempu, getteng, ada tongeng, temmapasilaengeng, warani, amaccangeng, reso, tenricau tenribali, Makkatenni Masse ri Panngaderengnge na Mappesona ri Dewata SewwaE “Mette’ Tenribali, Massadda Tenri Sumpala”
Akhirnya jika disimpulkan, bahwa Konsep Mattulu Tellue dimasa Pemerintahan Raja Bone ke-7 Latenri Rawe Bongkangnge dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Siattinglima, yang artinya bergandengan tangan.
Maksudnya : apabila sesuatu pekerjaan dilakukan secara bersama-sama, maka ringanlah pekerjaan itu
2. Sitonraola, yang artinya berjalan searah, satu kata dalam mufakat
Maksudnya : Sesuatu permasalahan harus diputuskan dengan musyawarah dan mufakat
3. Tessibelleang, yang artinya tidak saling menghianati
Maksudnya : Segala sesuatu yang telah dimufakati sebagai keputusan maka siapapun harus menaatinya.
Selanjutnya, Konsep Mattulu Tellue dimasa Pemerintahan Raja Bone ke-15 Latenri Tata Arung Palakka dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Malilu Sipakainge
2. Mali Siparappe
3. Rebba Sipatokkong
(artinya : ” Terlupa Saling Mengingatkan, Hanyut Saling Berdampar, Rubuh Saling Menegakkan). Kata kunci konsep di atas adalah “Tellabu Essoe Ri Tengnga Bitarae”
Semua ungkapan heroik di atas termasuk Konsep-konsep Mattulu Tellue terangkum dalam nilai-nilai SUMANGE’ TEALLARA’ yang berfungsi sebagai PENYEMANGAT ibarat MEMBAKAR API serta sebagai PERISAI/TAMENG dalam menjaga dan mempertahankan seluruh KEHEBATAN EKSISTENSI MASA LALU, KINI, DAN MASA AKAN DATANG. KEHEBATAN PATTOLA MASA KINI ADALAH TETESAN DARAH DAN AIR MATA PARA PENDAHULU
Oleh : Mursalim

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here