BUGIS RAMPAI : RILADUNG RI ALAUNA PALLETTE, KONSEKUENSI HUKUM ADAT MALAWENG DIMASA LALU

0
1
 RILADUNG RI ALAUNA PALLETTE, KONSEKUENSI HUKUM ADAT MALAWENG DIMASA LALU
RILADUNG RI ALAUNA PALLETE, KONSEKUENSI HUKUM ADAT MALAWENG DI MASA LALU
Oleh : Mursalim
Adat merupakan pencerminan kepribadian suatu bangsa yang berlangsung turun temurun dari abad ke abad. Setiap bangsa di dunia tentu memiliki adat kebiasaan sendiri-sendiri, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Sehingga ketidaksamaan inilah yang memberikan identitas antara bangsa yang satu dengan yang lainnya.
Adat diibaratkan sebuah fundasi yang kukuh, sehingga kehidupan modern pun ternyata tidak mampu melengserkan adat-kebiasaan yang hidup dalam masyarakat. Karena adat itu dapat mengadaptasikan diri dengan keadaan dalam proses kemajuan zaman sehingga adat itu tetap kekal dan tegar menghadapi tantangan zaman.
Hukum adat merupakan sesuatu tatanan hidup masyarakat yang kemudian menjadi hukum yang tidak tertulis. walaupun demikian tetap dipatuhi berdasarkan atas keyakinan bahwa peraturan-peraturan tersebut mempunyai kekuatan hukum.
Dahulu, dikalangan Bugis Bone dikenal hukum adat dengan istilah “MALAWENG”. Hukum Adat Malaweng itu terdapat tiga tingkatan, yaitu :
1. Malaweng tingkat pertama (MALAWENG PAKKITA), yakni sesorang yang melakukan pelanggaran melalui pandangan mata. Misalnya, menatap sinis kepada orang lain, menatap tajam laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya dan lain sejenisnya.
2. Malaweng tingkat kedua (MALAWENG ADA-ADA), yakni seseorang yang melakukan pelanggaran karena kata-kata yang diucapkan. Misalnya, berkata yang tidak senonoh kepada orang lain, membicarakan aib orang lain, berkata sombong dan angkuh, berkata kasar kepada lawan bicaranya, dan lain sejenisnya.
3. Malaweng tingkat ketiga ( MALAWENG AMPE-KEDO ), yakni seseorang yang melakukan pelanggaran karena perbuatan tingkah laku. Misalnya, laki-laki melakukan hubungan intim dengan perempuan adik atau kakak kandungnya sendiri, membawa lari anak gadis (mallariang-silariang), melakukan hubungan intim dengan ibu/ayah kandungnya sendiri, menghilangkan nyawa orang lain, mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan yang punya, dan lain sejenisnya.
Dahulu, khusus dalam hal kawin-mawin dengan saudara kandungnya sendiri atau ayah/ibu kandungnya sendiri tergolong pelanggarang adat yang paling berat karena apabila hal ini terjadi maka keduanya baik laki-laki maupun perempuan mendapat hukuman setimpal dengan cara “Riladung” yakni keduanya dimasukkan ke dalam sebuah karung yang diikat dengan tali kemudian ditenggelamkan ke dasar laut dengan menggunakan alat pemberat batu.
Dimasa lalu, salah satu tempat eksekusi yang ada di Bone adalah Kawasan TANJUNG PALLETTE yang berjarak 12 km dari kota Watampone sekarang ini. Keduanya dinaikkan kesebuah perahu kecil dan dibawa ke arah timur sejauh 3 km dari pantai Tanjung Pallette kemudian ditenggelamkan ke laut.
Sesuai petuah leluhur Bugis ” PADECENGI AMPE-KEDOMU, NINIRI RIASENGNGE AMPE MALAWENG “. NASABA MAEGATU RIASENGNGE MALAWENG, SAISANNA MALAWENG PAKKITA, MALAWENG ADA-ADA, ENRENGNGE MALAWENG PANGKAUKENG / AMPE-KEDO ” (artinya Perbaikilah sikap dan prilakumu, hindarilah yang namanya perbuatan melanggar adat norma-norma yang berlaku, antara lain melanggar adat dengan penglihatan, kata-kata dan ucapan, dan sikap prilaku ). Demikian antara lain petuah orang tua Bugis kepada anak-cucunya.
MALAWENG adalah ragam kosa kata Bugis, kurang lebih dapat dimaknai sebagai sesuatu yang “berlebihan” sehingga menjadikan sesuatu tidak bermatabat atau mungkin saja lebih mendekati pengertian “genit”. Maka terjemahan bebas wasiat tersebut kurang lebih, adalah : “janganlah genit pada segala hal”. Seperti halnya genit berbusana, genit bertingkah laku, genit pandangan, genit berkata-kata serta banyak lagi yang lainnya.
Sabar dalam bertingkah laku serta senantiasa mampu menempatkan diri pada posisi masing-masing. Menyebut “ndi” pada siapapun yang menurut umurnya pantas jadi adiknya serta menyebut “nak” kepada siapapun yang menurutnya pantas jadi anak serta cucunya dari segi umur.
“Naposipa’ asengna” (bertingkah laku sesuai namanya), demikian penilaian banyak orang terhadapnya karena sesungguhnya “Mapparimeng” dalam kosakata Bugis, berarti : Tawakkal dan tawadlu.
“Aja’ Muappakawang Batu” dalam pengertian harfiahnya, yakni : berusaha menjadikan batu kali mengapung dipermukaan air. Sesuatu yang lebih diartikan sebagai mengupayakan sesuatu yang mustahil karena berlawanan dengan prinsif hukum alam (fisika). “Mappakawang Batu” dalam ranah pranata etika sosial suku Bugis adalah sesuatu yang sangat terlarang oleh “ Wari ”.
Aja’ muebbu laleng baru, ana’.. Aggau’ malebbi mukko, Puwang Allahu Ta’ala pa mpukkarekko alebbirengmu.. Aja lalo mupakatunai padammu rupa tau, nasaba’ masselessureng manengngiritu sininna rupa tauE ri lino, ateppekini bawang nak.. (jangan sekali-kali merintis sebuat adat baru, anakku.. berprilaku mulialah, nantilah Allah yang membukakan pintu kemuliaanmu. Jangan sekali-kali merendahkan seseorang karena sesungguhnya manusia diseluruh dunia itu bersaudara).
Bagi orang yang beradat mulia biasanya mampu menempatkan diri dengan baik dapat membaca keadaan sekelilingnya di manapun ia berada. Jika kita bisa memosisikan diri pada hal yang sewajarnya maka ampe-kedo malaweng dapat terhindarkan .
Berikut lirik lagu ” MALAWENG “
ALA MASEA-SEANA TUO RI LINI
TANENGNGI BUNGA PUTE LAJO UNGANNA
ALA MASEA-SEANA TUO RI LINO
TABBA PADDENRING BOLA NAIRING ANGIN
SUSSANA NYAWAMU, SUSSANA NYAWAKU
SARANA ATIMMU, SARANA ATIKKU
TODDOPULI PULAWENG BALI SALAKA
NAIYYA TO MALAWENGNGE SAPA TANAI
NARILADUNGNA SIYA ALAUNA PALLETE

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here