BONERAMPAI : POLO MALELAE RI UNYNYI, PERJANJIAN BONE-LUWU

0
1
  POLO MALELAE RI UNYNYI, PERJANJIAN BONE-LUWU

Sering kita mendengar terjadi konflik antar dua kelompok yang mengatasnamakan dirinya orang Bone dan orang Luwu. Tidak dipungkiri sering terjadi korban dikedua belah pihak. Tentu hal ini sangat disayangkan, akibat mereka-mereka tidak pernah ingin membaca untuk mengetahui sejarahnya.
Dengan harapan tulisan ini bisa menjadi bahan introspeksi bagi kita semua, untuk tidak melahirkan konflik yang mana sangat merugikan kedua belah pihak yang berseteru. Persaingan secara sehat yang tercipta bertujuan untuk melahirkan sebuah perubahan mengarah kepada hal-hal yang sifatnya baik dan dapat berguna bagi diri kita, bangsa dan Negara.
Pada masa pemerintahan LA TENRI SUKKI 1510-1535, sebagai pewaris takhta dari ibunya, We Banrigau’-Mallajangnge ri Cina, ratu Bone ke-4 1470-1510. La Tenrisukki merupakan raja Bone pertama yang disebutkan memiliki hubungan dengan kerajaan besar lain di Jazirah Celebes Selatan.
Dimasa kekuasaannya, La Tenrisukki berhasil memukul mundur serangan militer PAJUNG LUWU, DEWARAJA BATARA LATTU. Perang itu dikenal dengan ”PERANG CELLU ”, Perang ini terjadi karena Angkatan Perang Luwu berlabuh di Cellu dan menyerang Bone. Perang Cellu ini dimenangkan oleh Bone atas keberanian PASSIUNO NA BONE (Pasukan Berani Mati dari Bone).

Setelah Perang Cellu, Arumpone LA TENRI SUKKI mengadakan perjanjian dengan Datu Luwu TO SERANGENG DEWARAJA. Perjanjian itu disebut POLE MALELAE RI UNYNYI atau GENCATAN SENJATA DI UNYNYI, ( Sekarang kelurahan Unynyi, kecamatan Dua Boccoe kabupaten Bone).
Usai Perjanjian POLE MALELAE RI UNYNYI ini, kedua raja, Arumpone dan Datu Luwu kemudian kembali ke negerinya. Keseluruhan substansi perjanjian Unnyi tersebut tidak mengandung unsur yang menetapkan tentang pembayaran kerugian perang dari pihak Luwu (yang kalah perang) kepada pihak Bone (yang menang perang).
Dengan demikian perjanjian perdamaian tersebut menyimpang dari kelaziman perjanjian gencatan senjata, yang pada umumnya menetapkan sanksi kerugian perang yang harus dibayar oleh negara agresor yang kalah perang. Hal ini menunjukkan pendekatan kekeluargaan Arung Mangkaue La Tenrisukki kepada Datu Luwu, Dewaraja.‎

Berdasarkan substansi materi perjanjian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya perjanjian POLE MALELAE RI UNYNYI adalah perjanjian persekutuan antara Bone dan Luwu. Persekutuan semacam ini, baru untuk pertama kalinya terjadi dalam Sejarah Kerajaan Bone.
Arti strategis perjanjian POLE MALELAE RI UNYNYI bagi Bone, adalah suatu sukses di bidang politik dan militer. Dengan peristiwa tersebut menampatkan Bone dalam posisi strategis yang kuat terhadap kerajaan-kerajaan kecil di sekitar kerajaan Bone bahkan juga kerajaan-kerajaan lainnya di kawasan Sulawesi Selatan.
‎‎
Setelah itu beliau juga menghadapi pemberontakan dari orang-orang Mampu yakni salah satu kerajaan di sekitar kerajaan Bone (Kerajaan Mampu adalah desa Cabbeng kecamatan Dua Boccoe kabupaten Bone sekarang ini). Namun, sekali lagi pemberontakan tersebut dapat diselesaikan oleh La tenri Sukki.
Setelah beliau memerintah kurang lebih 27 tahun lamanya ia pun wafat. Dan sebagi penggantinya ditunjuklah puteranya La Uliyo Bote’E hasil perkawinanya dengan sepupunya We Tenri Songke sebagai Raja Bone ke-6. Digelari Bote’E karena Arumpone ini memiliki postur tubuh yang gempal-subur.
Adapun perjanjian POLE MALELAE RI UNYNYI yang merupakan perjanjian damai antara kerajaan BONE dan LUWU dalam mengakhiri Perang Cellu, sebagai berikut :
1. ” Makkedai Arumpone (Berkata Raja Bone) : MALI SIPARAPPE’KI, MAREBBA SIPATOKKOKKI’, DUWA ATA SEDDI PUANG, GAU’KU LUWU GAU’NA BONE, MANGURU JA MANGURU DECENG ( Kita naikkan yang hanyut, kita tegakkan yang rebah. Dua hamba satu Tuhan, tindakan Luwu tindakan Bone, sama-sama menanggung buruk baiknya ). Maksudnya, kita bantu bagi yang membutuhkan bantuan, rakyat dan raja Bone bersatu dengan rakyat dan raja Luwu dalam menghadapi segala tantangan.
2. TESSIPAMATE-MATEI, SISAPPARENG AKKELENUANGNGI, TESSIBAWENG-PAWENGNGI, TESSITAJENG ALILUNGNGI ( Tidak saling mematikan, saling menunjukkan hak milik, tidak saling menghina, dan tidak saling mencari kesalahan). Maksudnya, Bone dan Luwu jangan saling mencelakakan, tetapi mestinya saling menghormati dan menghargai hak milik masing-masing.
3. NAMAUNA SIWENNI MUA LETTU’NA TO BONE-E RI LUWU, LUWU NI, NAMAUNA SIWENNU MUA LETTU’NA TO LUWU-E RI BONE, BONE NI (walaupun baru satu malam orang Bone berada di Luwu, maka mereka sudah menjadi orang Luwu, walaupun baru satu malam orang Luwu berada di Bone, maka mereka sudah menjadi orang Bone). Maksudnya, orang Luwu ataupun orang Bone diperlakukan, dihargai, dan dihormati sama seperti kalau mereka berada di negeri sendiri di Bone ataupun di Luwu.
4. TESSIAGELLIANG TESSIPIKKI, BICARANNA BONE BICARANNA LUWU, ADE’NA BONE ADE’NA LUWU, ADE’NA LUWU ADE’NA BONE (Tidak salaing memarahi dalam kesulitan, masalahnya Bone masalahnya Luwu, adatnya Bone adatnya Luwu, adatnya Luwu adatnya Bone). Maksudnya, Bone dan Luwu bersama-sama bertekad menyelesaikan masalah mereka berdasarkan ketentuan hukum dan norma adat masing-masing.
5. TESSIACINANGNGI ULAWENG MATASA PATTOLA MALAMPE (Tidak saling mengingingkan emas murni dan calon generasi penerus). Maksudnya, Bone dan Luwu tidak saling mengambil hak dan mencampuri masalah urusan dalam negeri masing-masing sampai generasi selanjutnya.
6. NIGI-NIGI TEMMARIENGNGERANG RI ULU ADAE, IYA RISARING PAROWO RI DEWATAE LETTU RI MUNRINNA, IYA MAKKUA RAMUN-RAMUNNA, APU-APUNNA ITTELLO RIADDAMPESSANGNGE RI BATUE (Barang siapa yang mengingkari perjanjian perdamaian ini, maka dialah akan disapu seperti sampah oleh Allah sampai kepada anak cucunya, dan negerinya akan hancur seperti telur yang diempaskan ke batu). Maksudnya, Bila Luwu dan Bone mengingkari perjanjian Perdamaian ini, maka akan mendapat kutukan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Setelah kita menyimak isi PERJANJIAN atau ULU ADA di atas, dapat disimpulkan bahwa peperangan bukan sebuah solusi untuk menuju kesejahteraan. Tetapi persahabatan adalah sebuah solusi untuk kita hidup berdampingan dan bersama-sama meraih kesejahteraan.
Dengan harapan semoga tulisan kecil ini bisa terbaca dan dimaknai oleh masing-masing PATTOLA (generasi) BONE-LUWU sehingga dapat menjadi pemebelajaran bagi generasi. Ulu Ada Polo Malelae ri Unnyi bukti persaudaran BONE-LUWU hingga waktu tak terbatas.
ULU ADA dalam bahasa Indonesia disebut PERJANJIAN. Sedangkan POLO MALELAE berasal dari kata POLO berarti PATAH, dan MALELAE berarti besi yang sangat kuat sulit dipatahkan yang dalam bahas Bugis disebut BESSI MANCING, yaitu diibaratkan besi beton yang sangat kukuh. Kemudian UNYNYI adalah sebuah dusun yang kini menjadi Kelurahan Unnyi, kecamatan Dua Boccoe, kabupaten Bone
Oleh : Mursalim

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here