Ininnawa Senandung Bugis

15
 
Selain lagu “Paseng Riati” ada juga satu lagu yang acapkali menjadi senandung dikalangan orang Bugis pada waktu mau menidurkan anak-anaknya, yakni Ininnawa. Lagu ini dikategorikan lagu-lagu Yabelale. Bahkan lagu ini lebih kesohor dibanding “Paseng Riati”. Sebagian orang memberi judul ” Ininnawa Sabbarae “, namun menurut Lato’ Remmang (Almarhum) lagu ini judul aslinya adalah “Ininnawa” artinya Hati Yang Tulus Ikhlas. Terdiri atas tujuh bait saja. Seiring perkembangan banyak yang menambah syair dan baitnya karena kepentingan tertentu.

Menurut Lato’ Remmang syair lagu “Ininnawa” ini sudah ada pada waktu beliau masih anak-anak tahun 1912. Beliau tidak mengetahui siapa penciptanya. Menurutnya, lagu ini didapat oleh seseorang dan tersimpan di dalam sebuah Ceropong (Batang Bambu Sejenis Teropong) dengan naskah lontara Bugis. Seperti kebiasaan orang Bugis masa lalu kalau ada surat yang dianggap penting mereka simpan dalam Ceropong Bambu. Lagu inipun sarat dengan petuah.

Lagu Ininnawa bercerita tentang orang yang selalu bersabar akan memperoleh kebahagiaan, dan kebahagian itu akan datang jika disertai usaha dan ikhtiar. Sebagai pesan moral mengajarkan kita untuk selalu bersabar dan bersyukur dan apabila kita mendapat kebahagiaan, janganlah lupa kepada Sang Pencipta.

Ayunan pada tubuh akan merangsang otak kecil anak yang secara otomatis akan meningkatkan daya kognitif anak. “Jangan hanya diayun, tapi dinyanyikan. Ini akan jadi satu latihan kinestetik awal yang baik,” kata Lato Remmang.

Kinestetik merupakan keistimewaan pada orang-orang tertentu yang lebih cepat memahami ilmu atau pelajaran dengan aktivitas dibanding membaca dan menghafal. Misalnya saja mempelajari proses turunnya hujan. Bagi anak kinestetik, jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan pasti cepat dicerna.
I. ININNAWA SABBARA’E 2X
(Ketulusan Kesabaran)
LOLONGENG GARE’ DECENG
(Konon Mendapatkan Kebaikan)
ALA TOSABBARAEDE
(jua Orang Penyabar)
II. PITU TAUNNA SABBARA’ 2X
(Tujuh Tahun Bersabar)
TENGGINANG KULOLONGENG
(Belumlah Kudapatkan)
ALA RIYASENGNGE DECENG
(Jua namanya Kebaikan)
III. DECENG ENRE’KI RI BOLA 2X
(Kebaikan Naiklah di Rumah)
TEJJALI TETAPPERE
(Tanpa Tikar Permadani)
ALA BANNA MASE-MASE
(Jua dalam Kesederhanaan)
IV. MASE-MASE IDI’NAGA 2X
(Kesederhanaan inilah)
RISURO MATTARANA
(Ditasbihkan Mengasuh Anak)
ALA MUTEA MABELA
(Jua Engkau Tak Menjauh)
V. MABELAMPI KUTIROKI 2X
(Dari Jauh Kumelihatmu)
MUJOPPA ALE-ALE
(Engka Berjalan Sendiri)
ALA MUTELLU SITINRO
(Jua Engkau bertiga )
VI. TELLU MEMENGNGA SITINRO 2X
(Tiga memang saya jalan bersama)
NYAWAKU NA TUBUKU
(Nyawaku, dan Tubuhku)
ALA PASSENGERENGNGEDE
(Jua amal perbuatan)
VII. SENGERENGMU PADA BULU 2X
(Kebaikan Setinggi Gunung)
ADATTA SILAPPAE
(walau Satu Kata Saja)
ALLA RUTTUNGENG MANENGNGI
(Semua Akan Runtuh)
Catatan : Agak rumit juga menerjemahkan bahasa Bugis ke bahasa Indonesia, karena sinonimnya banyak, bahasa Bugis pada umumnya simbolis, sehingga menjadi suatu kelebihan dan identitas tersendiri.
(Mursalim)

KOMENTAR ANDA

Please enter your comment!
Please enter your name here