Tradisi Lisan Paupau Rikadong

0
2

Budaya tutur masyarakat Bugis tempo lalu memang sangat kental. Pada kehidupan masyarakat perdesaan Kabupaten Bone Budaya tutur itu masih bertahan sampai sekarang ini. Mengapa masih bertahan, karena budaya tutur itu dalam perkembangannya menyebar hanya secara lisan saja dan para penuturnya harus bisa menghapal apa yang hendak dituturkan.Salah satu budaya tutur masyarakat Bugis adalah “Pau-Pau Rikadong”.

Paupau ri Kadong diartikan sebagi tradisi lisan atau budaya tutur dari mulut ke mulut yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Tradisi tutur ini menggambarkan cara berpikir dan membentuk pola tingkah laku masyarakat yang bisa menghibur hingga menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Paupau ri Kadong berarti cerita yang dianggukkan atau di-iya-kan (salah cocok nakadoi manengngi). Walaupun orang tahu cerita itu fiktif (bohong-bohongan), tetapi disetujui bagi yang mendengarnya. Hal itu karena, cerita-ceritanya tersebut hanya menjadi media untuk menyampaikan pesan moral bagi yang mendengarnya. Walaupun sifatnya fiktif, namun cerita-ceritanya sebagai sarana hiburan dan pendidikan.

Contoh Paupau rikadong diantaranya, Doko-dokona Passompe’E, La Kannaco, Nene Pakande, dan Meong Palo Karellae yakni sastra yang bersifat mitologis, tetapi pada hakikatnya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah sesuatu positif dan universal. Meong Palo Karellae banyak mengandung nilai moral dan sosial.

Nilai dermawan dan pengasih itulah yang mendasari sikap dan perilaku yang suka memberikan pertolongan atau jaminan sosial seperti yang ada dalam cerita Meong Palo Karellae (MPK). Mengantar orang yang bepergian, menjemput orang yang datang, memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus, menyarungi orang yang telanjang, menerima orang yang susah, menampung orang yang terdampar, menerima orang yang dibenci, dan menerima semua orang yang diperlakukan sewenang-wenang oleh sesama manusia.

Meskipun Paupau Rikadong masih sering kita dengar di tengah masyarakat khususnya di perdesaan bukan mustahil akan hilang dengan sendirinya apabila tidak ada upaya pelestariannya. Apalagi di era globalisasi ini dengan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih, budaya lokal semakin terdesak oleh budaya luar. Untuk pelestariannya perlu usaha mengumpulkan cerita-cerita lisan yang masih ada kemudian dibukukan atau bisa juga dalam bentuk digitalisasi papau rikadong.

(Mursalim)

Komentar yang Sopan

Please enter your comment!
Please enter your name here