Bissu Bagian dari Peradaban Bugis Kuno hingga Sekarang

4
Tak dapat dipungkiri, bahwa dalam kehidupan sosial, pria feminim atau pria yang bertingkah laku sebagaimana layaknya perempuan biasa disebut waria, wandu, banci atau bencong. Dalam Bahasa Bugis, waria disebut calabai, berasal dari kata sala dan bai atau sala baine, yang artinya bukan perempuan atau calalai, bukan laki – laki. Apabila perempuan bertingkah layaknya laki-laki maka disebut Calalai. Ungkapan tersebut merujuk kepada kondisi dimana seorang terlahir sebagai pria, tetapi bertingkah laku seperti perempuan atau sebaliknya. Umumnya pandangan masyarakat Bugis – Makassar mengenai calabai atau calalai ini adalah negatif, bahkan seringkali mengundang ejekan atau cemohan.
Lalu, bagaimana dengan waria yang ‘ditakdirkan’ menjadi Bissu. Apakah pandangan masyarakat tentang Bissu sama dengan waria pada umumnya. Kata “Bissu” itu sendiri diyakini berasal dari kata “bessi” atau “mabessi”, yang berarti bersih, suci, tidak kotor, karena mereka tidak berpayudara dan tidak mengalami menstruasi. Selain waria, ada pula bissu perempuan, yaitu mereka yang menjadi bissu setelah mengalami masa tidak subur lagi atau menopause (Makkulau, 2007). Ada juga anggapan bissu berasal dari kata Biksu yakni Pendeta agama Budha. Dengan alasan, bahwa sebelum Agama Islam masuk, masyarakat bugis kemungkinan besar memeluk agama tersebut.
Dalam budaya bugis masa silam, bissu mempunyai kedudukan yang sangat terhormat dan disegani, sebagai penyambung lidah raja dan rakyat. Bissu juga merupakan perantara antara langit dengan bumi, hal ini dimungkinkan karena kemampuannya yang menguasai basa torilangi (bahasa langit) yang hanya bisa dimengerti sesama bissu dan para dewa.
Dalam naskah sure’ Galigo dikisahkan bahwa Bissu pertama yang ada di Bumi bernama Lae-Lae, yang diturunkan bersama-sama dengan Batara Guru. Batara Guru dikisahkan turun dari langit dan keluar dari sebatang bambu. Keterasingan batara guru yang berasal dari boting langi (dunia atas) terobati dengan pertemuannya dengan We Nyili Timo dari Bori Liung (dunia bawah). Keduanya bertemu dan hidup secara turun temurun di ale kawa (dunia tengah). Dari sinilah diyakini tradisi bissu berawal (di tanah Luwu) dan menyebar ke berbagai daerah Sulawesi Selatan. Pada masa kerajaan, pernah hidup empat puluh bissu yang disebut Bissu Patappuloe yang dipersyaratkan sebagai jumlah bissu yang harus hadir (sebagai pelaksana) dalam Upacara Adat Mappalili.
Pada masa keemasan kerajaan – kerajaan besar dan pemerintahan kekaraengan di Sulawesi Selatan, tidak satupun upacara adat yang dapat dianggap lengkap dan sah tanpa keterlibatan waria sakti ini. Komunitas Bissu merupakan pelestari tradisi dan pemelihara benda – benda kebesaran kerajaan (kalompoang/arajang) dan keagamaan pada masa itu. Umumnya masyarakat, yang menggantungkan hidupnya sebagai petani dan nelayan masih mengapresiasi dengan baik upacara adat dan pemujaan terhadap dewata yang dilaksanakan komunitas ini.
Komunitas “Bissu Dewatae”. sebutan bagi komunitas Bissu di Pangkep hidup dalam suatu aturan dan disiplin yang tinggi dalam menjalankan kepercayaan dan tradisinya. Hal ini tampaknya sulit dipahami apalagi dijalankan bagi mereka yang tidak mampu melihat gaya hidup semacam ini sebagai suatu “panggilan suci”. Seorang waria (calon bissu) yang memenuhi syarat untuk menjadi bissu membutuhkan serangkaian proses masa magang / pendidikan yang tidak mudah, perlu waktu bertahun – tahun untuk menjadi bagian dari komunitas ini. Bissu yang tergolong pintar dapat lulus dalam masa 3 – 5 tahun.
Dalam pendidikannya, seorang bissu tidak saja mempelajari tentang etika kebissuan dan pematangan dalam menjalankan tradisi upacara adat, mereka juga harus memahami dengan baik bahasa torilangi (bahasa langit), bahasa yang mereka jadikan media berkomunikasi dengan para dewata atau leluhurnya. Kehebatan mereka tampak saat melakukan atraksi maggiri, dalam kondisi pikiran bawah sadarnya, Bissu sama sekali tak mempan senjata tajam. Kini mereka lebih banyak memosisikan diri sebagai traditional event organizer, memenuhi undangan pentas atau pesanan hajatan baik dari masyarakat maupun dari pemerintah, tanpa melepas kerja harian mereka sebagai perias pengantin atau ahli tata rias di salon. Setiap perayaan hari jadi Bone, Bissu merupakan pelaku penyucian benda-benda kerajaan yang dihadiri dari unsur pemerintah, tokoh adat, dan pemuka lainnya. Kini Bissu Matoa Saidi telah meninggal namun tetap ada pewarisnya.

KOMENTAR ANDA

Please enter your comment!
Please enter your name here