OLAHRAGA TRADISIONAL BUGIS ^MASSEMPE^

0
1
Berbagai macam cara dan tradisi dilakukan warga dalam rangka menyambut bulan Syawal di Kabupaten Bone.

Salah sau tradisi yang dilakukan adalah massempe, yang yang digelar di Desa Latekko Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone,

Tradisi baku tendang merupakan sajian paling ditunggu oleh ratusan warga yang rela berdesak-desakan di tengah teriknya matahari. Meskipun terkesan anarkis, namun tradisi ini justru merupakan ajang silaturrahmi antar warga di kampung mau pun kampung tetangga.
Tradisi massempe selain dilakukan dalam rangka mempersiapkan diri mengikuti tradisi menyambut bulan Syawal juga dilakukan untuk menyambut pesta panen raya di desa itu. Ratusan warga memenuhi lapangan Latekko, Desa Latekko, Kecamatan Awangpone, kemarin.
Sebelum melakukan pertarungan terlebih dahulu para peserta melakukan prosesi berjalan sambil menepuk-nepuk paha mengelilingi lapangan.
Satu-perersatu peserta bertarung satu lawan satu. Dalam pertarungan ini peserta hanya bisa mengandalkan kaki dan tak boleh menggunakan tangan.
Duel dipandu oleh dua orang sesepuh kampung. Tak jarang dalam salah satu pertandingan, peserta mengalami luka. Meski demikian tak ada dendam antarsesama peserta.
Salah seorang warga, Kahar, rela jauh-jauh datang hanya untuk menyaksikan tradisi yang hanya dilakukan sekali setahun ini.
“Iya ini memang sudah tradisi. Saya hanya menonton saja, karena seru juga sebab beberapa penonton yang lain kadang histeris jika salah seorang dari petarung terjatuh akibat tak mampu menahan tendangan lawannya,” katanya.
Massempe juga memiliki aturan tersendiri. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan secara turun temurun itu, maka peserta yang melanggar akan mendapatkan hukuman yaitu tidak akan diikutkan bertanding pada tahun berikutnya.
Aturan yang tidak boleh dilanggar, menurut Ketua Adat Latekko, adalah jika peserta duel dengan menggunakan tangan.

Massempe dilakukan dengan pertandingan dua pria yang seumuran seperti silat. Namun dalam Massempe, peserta tidak diperkenankan menggunakan tangan melainkan hanya menyerang dengan kedua kaki.
Mereka bertumpah ruah di sebuah lapangan dan melakukan tradisi yang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu tersebut. Menurut panitia pelaksana, Dacing, pesta adat tersebut merupakan salah satu warisan nenek moyang.
“Untuk dananya kami mengumpulkan secara gotong royong. Pesta ini biasa dilakukan setelah panen berhasil. Setiap rumah juga memotong ayam seperti waktu Lebaran dan tiap warga ikut berpartisipasi,” katanya.
Selain massempe ada juga mattojang atau berayun. Dalam mattojang, peserta akan berayund engan alat yang sudah diselenggarakan panitia. Pesertanya pun tidak hanya orang dewasa melainkan juga anak-anak bahkan anak gadis bisa ikut memainkannya.
Ada juga mappaddekko atau membuat bunyi atau irama dengan menggunakan lesung, nyaris sama dengan acara mappadendang.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMASSURE
Berita berikutnyaMAPPADENDANG