Cara Orang Bugis Berterima Kasih

0
1
Dari pengalaman saya sebagai orang Bugis selama bertahun tahun tingga di pedalaman Bugis Bone. Sering saya mendengar ungkapan simbolik seperti ini, UPARIWAKKANG PABBERETA, UPORENNU PABBERETA, KURU’ SUMANGE, KURU’ SUNGE, TARIMA KASI^.
Hubungan bertetangga dan komunikasi sosial dikalangan Bugis sudah berlangsung ratusan tahun silam.
Begitu eratnya hubungan sosial ini yang sering didahului dengan peristiwa pemberian materi Pesan pesan. nasihat, berupa bantuan tenaga dan pemikiran, ketika pertemuan dan perpisahan pada acara tertentu dan lain sebagainya.
Dalam hubungan bertetangga di kalangan bugis tidak lepas dari ungkapan leluhurnya REKKO CEMMEKI EPPI’ EPPI’ MATOI MENNANG BALI BOLAMU, SABA MAUNITU PAU PAU RIPORENNU MONI (Jika engkau sedang mandi percikkan juga dengan tetanggamu, walau hanya ucapan kata juga menggembirakan dan menyenangkan). Maksud ungkapan tersebut adalah apabila kita sedang ada rejeki berlebih ingat juga tetanggamu, sebab meskipun hanya ucapan akan merasa senang juga.
Apabila merujuk dari ungkapan leluhur Bugis tersebut di atas, maka ucapan terima kasih tidak sekadar bersifat kebendaan/material melainkan juga berupa tenaga dan pikiran.
Contoh prilaku rasa terima kasih berupa material yang sering kita jumpai pada waktu lebaran atau acara syukuran lainnya seperti LECCE BOLA (pindah rumah) mereka saling memberi (SIPONCING) entah berupa ketupat, buras, sokko atau ketan dan lainnya tergantung jenis makanan yang ada pada acara tersebut.
Sifat kegotongroyongan dikalangan Bugis juga dapat melahirkan ungkapan terima kasih misalnya ketika pada waktu turun sawah. Mereka saling bantu satu sama lain yang sering disebut MAPPARELE, MAPPATTANENG dan sejenisnya. Setelah selesai maka pihak yang dibantu sering menyatakan rasa terima kasih dengan ungkapan UPORENNU PATTULUTTA IDI MANENG. TARIMA KASI.
Ungkapan TARIMA KASI juga sering kita dengar pada waktu seseorang meluangkan waktunya menghadiri undangan tertentu misalnya pesta perkawinan dan acara lainnya.
Demikian halnya TARIMA KASI sering kita dengar pada waktu seseorang telah mendapatkan pesan, petunjuk, atau wejangan wejangan yang bermamfaat dan berguna IYYE TARIMA KASI PUANG. Kata PUANG dalam konteks ini adalah simbol penghargaan dan rasa terima kasih yang diberikan kepada orang sipemberi nasihat dari yang diberi nasihat.
Ungkapan KURU^ SUMANGE merupakan simbol pernyataan terima kasih orang tua kepada anak yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. KURU SUMANGE^MU ANA^
Demikian juga KURU SUNGE^MU ANA^ adalah ungkapan yang dilontarkan orang tua kepada anaknya yang sedang atau sembuh dari penyakit atau selamat dari marabahaya. Ungkapan ini sesungguhnya pernyataan rasa syukur kepada PENCIPTA.
Seperti diketahui, bahwa kehadiran sebuah kata dalam kosa kata suatu etnis, merupakan akumulasi gagasan yang kompleks. Sebelum gagasan kompleks tersebut menemukan ‘PATRON/CANGKANGNYA, dalam bentuk kata, benih kata itu diekspresikan dalam berbagai tindakan mulai dari individual sampai kepada berbagai bentuk ritual lainnya.
Perjalanan menjadi ‘kata’ itu, kadang selesai, kadang tidak. Kalau selesai, maka jadilah sebuah kata, yang dipahami dan diterima oleh kelompok pemakai bahasa tersebut sebagai PATRON/CANGKANG
Patron/cangkang bagi rangkaian perjalanan itu tidak selesai. Dapat diasumsikan perjalanan yang tidak selesai itu dapat terjadi karena alasan alasan tertentu misalnya antara lain :
1. Karena eskpresi bahasa yang ada sudah memadai. Artinya, belum terasa mendesak, untuk mewakilkan rangkaian perilaku, gestur, ke dalam sebuah kata. Gestur adalah suatu bentuk komunikasi non-verbal dengan aksi tubuh yang terlihat mengomunikasikan pesan-pesan tertentu, baik sebagai pengganti wicara atau bersamaan dan paralel dengan kata-kata. Gestur mengikutkan pergerakan dari tangan, wajah, atau bagian lain dari tubuh.
2. Karena terjadi pertemuan dan pengaruh serta pengadopsian dengan bahasa lain, yang telah lebih dulu menyelesaikan perjalanan ‘menjadi kata’ itu. Ketika oleh para pendukung bahasa tertentu, ‘disepakati’ bahwa serapan itu secara paralel mewakili gagasan original yang tumbuh di tengah masyarakat dalam wujud non-verbal, maka jadilah ia bagian dari kosa kata pendukung bahasa tertentu misalnya TERIMA KASIH menjadi TARIMA KASI^ (serapan dari bahasa Indonesia).
Bugis bukannya etnis yang tidak punya kata terima kasih. Bukan pula etnis yang tidak tahu berterima kasih. Buktinya ungkapan ungkapan seperti yang sudah dijelaskan di atas masih sering kita dengar dalam keseharian khususnya masyarakat pedalaman Tanah Bone. Jadi hanya tidak muncul dipermukaan akibat pengaruh bahasa dari luar .
Kata” TERIMA KASIH rupanya sudah menjadi BAHASA SERAPAN dikalangan Bugis menjadi TARIMA KASI^ (dalam bahasa Bugis murni UPORENNU PABBERETA yaitu ungkapan rasa senang atas pemberian itu). Namun sebaliknya, Bukankah GANTOLLE sudah menjadi bahasa dunia padahal itu bagian kosakata Bugis?.
Karena sebuah kata telah “ditemukan”, lambat-laun semakin menepilah tindakan yang sebelumnya digunakan sebagai cara, untuk mengekspresikan rasa penghargaan. Kata itu dapat tersingkir karena pengaruh bahasa luar yang dianggap lebih mudah diucapkan.