RAJA BONE KE-1 MANURUNGE RI MATAJANG, 1330-1365

0
16
Dalam Lontara’ disebutkan, bahwa setelah habisnya turunan PUATTA MENRE-E RI GALIGO, keadaan negeri-negeri diwarnai dengan kekacauan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya arung (raja) sebagai pemimpin yang mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat. Terjadilah perang kelompok-kelompok anang (perkauman) yang berkepanjangan (Bugis = Sianrebale).

Kelompok-kelompok masyarakat saling bermusuhan dan berebut kekuasaan. Kelompok yang kuat menguasai kelompok yang lemah dan memperlakukan sesuai kehendaknya. Keadaan yang demikian itu, dalam Bahasa Bugis disebut SIANREBALE (saling memakan bagaikan ikan). Tidak ada lagi adat istiadat, apalagi norma-norma hukum yang dapat melindungi yang lemah. Kehidupan manusia saat itu tak ubahnya binatang di hutan belantara, saling memangsa satu sama lain, siapa yang kuat itulah yang menang.

Proses awal keberadaan kerajaan- kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan pada umumnya selalu diawali dengan mitos-mitos sebagai bentuk pengesahan dan legalitas kerajaan. Memang diakui bahwa sebelum mitos-mitos itu muncul dan menjadi suatu konsep legalitas kerajaan, sebenarnya kerajaan- kerajaan itu telah lama ada dan eksis menurut pemikiran kolektif kelampauan mereka seperti kerajaan Luwu, Bone, Gowa, Soppeng, Wajo, Tanete dan kerajaan lain yang ada di Sulawesi Selatan. Mitos itulah yang memunculkan tokoh To Manurung yang mewarisi raja-raja berikutnya. Namun yang paling menajubkan karena kemunculannya selalu bertepatan dengan adanya konflik-konflik internal kerajaan yang bersangkutan, dan tokoh inilah yang dianggap sebagai juru selamat yang membawa keamanan, ketentraman dan kemakmuran kerajaan dan terbukti memang demikian.

Selama tujuh pariama ( 70 Tahun ) tenggelam dalam situasi konflik yang berkepanjangan. Kondisi ini dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah Sianre Bale (Chaos yang diartikan sebagai suatu keadaan yang kacau, tidak beraturan, dan acak (kehadirannya tidak dapat diprediksi), di mana yang kuat memangsa yang lemah, siapa yang kuat itulah yang menang (hukum rimba). Luas Bone pada masa itu terbilang lebih kecil dari Ibukota Kabupaten Bone sekarang ini yang terdiri atas 27 kecamatan.

Masing-masing Anang dipimpin oleh seorang Pangulu Anang yang disebut Kalula. Situasi politik ini merupakan akibat dari kondisi tidak adanya lagi tokoh yang mereka anggap sebagai pemimpin besar yang dapat mempersatukan tujuan visi dan misi ketujuh anang tersebut.

Hal ini secara implisit dijelaskan dalam Sure’ La Galigo, lebih disebabkan oleh punahnya (sudah tidak terdeteksinya) keturunan-keturunan La Galigo di Bone. Ketujuh Kalula saling mengklaim “hak” atas kepemimpinan wilayah Bone tersebut. Ada juga yang menyebut Kalula Anang Cina, Barebbo, Awampone dan Palakka sudah turut dalam perjanjian ManurungngE dengan orang Bone, namun karena kurangnya data lontara’ yang mendukung, pernyataan ini masih diragukan.

Konflik antar Kalula berlangsung selama bertahun-tahun. Masing-masing mengkalim sebagai keturunan La Galigo yang, namun karena keterbatasannya tidak mampu menunjukkan bukti-bukti (mereka belum mengenal silsilah), merasa berhak atas kepemimpinan dikalangan kalula.

Semangat kejahiliyahan (masa kebodohan) membara untuk saling atas-mengatasi sehingga perang saudara kelompok tidak bisa dihindari.

ManurungngE, berasal dari bahasa Bugis yang dalam terjemahan bebasnya berarti “orang yang turun dari ketinggian“. Dalam aturan bahasa Bugis, khususnya Bugis-Bone, akhiran “E” dipakai untuk menunjuk kata kepunyaan, akhiran ‘nya’ dalam bahasa Indonesia. Sehingga akhiran “E” pada kata Manurung yang diikutinya akan menunjukkan arti dialah orang yang turun dari ketinggian.

Kepercayaan Bugis-Makassar sebelum mengenal Islam, Manurung-E atau To Manurung dianggap sebagai perwujudan Tuhan, dewa (Bugis-Bone: Dewata seuwwaE); manusia yang turun dari langit, namun bukan sebagai manusia pertama (Adam).

Satu hal penting yang disepakati oleh para budayawan adalah bahwa Manurung-E merupakan manusia yang mempunyai kelebihan dibandingkan manusia lainnya; Cerdas, pandai dan mempunyai wawasan yang lebih luas dibandingkan orang/masyarakat sekitarnya.

Hal ini juga dipertegas dalam lontara’ yang mengisahkan adanya sekelompok masyarakat yang menyambutnya kemudian memintanya untuk menjadi raja/mangkau’. Oleh sebab itu, disinyalir Tau Manurung sebagai orang suci (saint) yang sedang dalam perjalanan spiritual. Namun, kemudian terdampar pada sebuah daerah (bugis) yang ‘kebetulan’ belum memiliki sosok pemimpin/raja.

Berbeda dengan di daerah lain, sebut misalnya di pulau Jawa, yang banyak meninggalkan jejak sejarah seperti prasasti yang informasinya dapat bertahan lama. Oleh sebab itu, lontara’ harus diletakkan pada posisi terdepan sebagai bahan kajian untuk mengungkap misteri perjalanan suku-suku di Sulawesi.

Selain di Nederland-Belanda, keberadaan lontara yang mempunyai informasi penting mengenai sejarah Kerajaan Bone, khususnya kebudayaan Bugis-Makassar, disinyalir masih banyak berserakan di tangan-tangan penduduk.

Namun ada kepercayaan benda-benda sejarah ini memiliki “Tuah / Bernilai Mistik” sehingga mereka enggan memberikan kepada peneliti. Mereka masih percaya bahwa dengan memegang lontara,strata sosial dan kewibawaan mereka akan tetap terjaga dan senantiasa dihormati oleh masyarakat.

Dalam lontara’ disebutkan, ketika keturunan dari Puatta Menre’E ri Galigo malawini darana (bangsawan dan rakyat-biasa sudah tidak bisa dibedakan sebagai akibat perkawinan) terjadi kekacauan yang luar biasa karena tidak adanya sosok pimpinan yang berasal dari bangsawan (manurung). Keadaan Bone saat itu, chaos. Norma-norma hukum tidak berlaku, adat-istiadat dipasung, kehidupan ummat tak ubahnya binatang di hutan belantara, saling memangsa dan saling membunuh. Karena itu Bone butuh sosok pemimpin, namun dari kalangan mereka tidak ada yang saling mengakui keunggulan satu sama lain.

Ketika konflik tengah berlangsung, sebuah gejala alam yang mengerikan melanda wilayah Bone dan sekitarnya. Gempa bumi terjadi demikian dahsyatnya, angin puting beliung menerbangkan pohon beserta akar-akarnya, hujan lebat mengguyur alam semesta dan gemuruh guntur diiringi lidah kilatan petir yang menyambar datang silih berganti selama beberapa hari, di langit, ratnamutumanikam enggan menampakkan diri. Gejala alam seperti ini juga diceritakan dalam pararaton (Kitab Raja-raja) dan prasasti peninggalan kerajaan Majapahit.

Setelah PUA’JURU (orang pintar) melakukan berbagai ritual, para bissu – maddanging-ranging (memohon kepada Dewatae), tiba-tiba terjadi guntur dan kilat disertai angin kencang, selama kurang lebih tujuh hari tujuh malam gelap gulita.

Setelah keadaan menakutkan itu reda, di ufuk timur muncullah Tarawu (bianglala). Sesaat kemudian, di tengah padang nampak segumpal cahaya yang menyilaukan mata, muncul sosok manusia mengenakan pakaian serba putih (pabbaju pute). Karena tak seorang pun yang mengenalnya, orang-orang menganggapnya sebagai To Manurung, manusia yang turun dari langit.

Cerita kemunculan To Manurung ini cepat menyebar di kalangan Kalula. Dan mereka pun mengunjungi Sang Misteri. Para kalula anang (pangulu kalula/pemimpin kelompok) kemudian mengorganisir diri berembuk untuk, dan sepakat, mengangkat To Manurung menjadi raja mereka.

Berikut ringkasan percakapan antara orang banyak dengan yang disangka To Manurung :
To Manurung (Raja) : “Teddua nawa-nawako, Temmabbaleccokko”
Tidakkah engkau berdua hati!? Tidakkah engkau ingkar!?

Matoa Ujung (wakil ketua masyarakat – Matoa/Ulu Unang) : “Angikko ki raukkaju. Riao’ miri’ ri-akkeng. Matappalireng. Elomu rikkeng. Adammu kua. Mattampa’ko kilao, Millauko kisawe. Mauni anameng, pattarommeng. Rekkua muteawi, Ki-teai toi-sa. Ia kita ampirikkeng temmakare’. Dongirikeng temmatippe. Musalipuri’kkeng Temmacekke.”

Terjemahan :

Anginlah engkau, kami daun kayu. Ke mana engkau menghembus ke sana kami terbawa. Kehendakmu kepada kami, titahmu jadi. Engkau menyeru, kami pergi. Engkau meminta, kami memberi. Engkau memanggil, kami menyahut. Walaupun anak kami dan isteri kami, apabila engkau tak menyukainya, kami pun tak menyukainya. Akan tetapi, tuntunlah kami menuju kemakmuran. Engkau menyelimuti kami agar kami tidak kedinginan.

Terjemahan Umum

Kami ingin dikasihani Tuan, menetaplah di sini di negeri Tuanku, janganlah lagi pergi (lenyap), duduklah di sini memerintah kami Tuanku. Kehendakmulah yang menentukan, perintahmu kami lakukan. (tetapi) Engkau jaga kami dari gangguan burung pipit, (Engkau) selimuti kami agar kami tidak kedinginan, Engkau ikat kami bagai seonggok padi yang tak hampa, walaupun anak kami dan atau isteri kami bila Engkau tidak menyukainya, kami pun juga tidak menginginkannya.

Pernyataan di atas diimplementasikan sebagai berikut :
Bersama dengan orang banyak yang berkumpul tersebut, para kalula kemudian berkata,

” Kami semua datang ke sini memintamu agar engkau tidak lagi mallajang (menghilang). Tinggallah menetap di tanahmu agar engkau kami angkat menjadi mangkau’. Kehendakmu adalah kehendak kami juga, perintahmu kami turuti. Walaupun anak isteri kami engkau cela, kamipun akan turut mencelanya asal engkau mau tinggal.

Orang yang disangka To Manurung menjawab :

” Bagus sekali maksud tuan-tuan, namun perlu saya jelaskan bahwa saya tidak bisa engkau angkat menjadi Mangkau sebab sesungguhnya saya adalah hamba sama seperti engkau. Tetapi kalau engkau benar-benar mau mengangkat mangkau’, saya bisa tunjukkan orangnya. Dialah bangsawan yang saya ikuti.”

Orang banyak berkata :

” Bagaimana mungkin kami dapat mengangkat seorang mangkau yang kami belum melihatnya? ”.

Orang yang disangka To Manurung menjawab :

” Kalau benar engkau mau mengangkat seorang mangkau, aya akan tunjukkan tempat matajang (terang), disana lah bangsawan itu berada”.

Orang banyak berkata :

” Kami benar-benar mau mengangkat seorang Mangkau, kami semua berharap agar engkau dapat menunjukkan jalan menuju ke tempatnya ”.

Orang yang disangka To Manurung bernama Puang Cilaong, mengantar orang banyak tersebut menuju kesuatu tempat yang terang dinamakan Matajang (berada dalam kota Watampone sekarang). Gejala alam yang mengerikan tadi kembali terjadi. Halilintar dan kilat sambar menyambar, angin puting beliung dan hujan deras yang sangat dahsyat.

Setelah keadaan reda, nampaklah TO MANURUNG YANG SESUNGGUHNYA duduk di atas sebuah batu besar dengan pakaian serba kuning. To Manurung tersebut ditemani tiga orang yaitu; satu orang yang memayungi dengan payung berwarna kuning keemasan, satu orang yang menjaganya dan satu orang lagi pembawa Salenrang (puan/tempat sirih) To Manurung,

Bertanyalah Manurunge kepada Cilaong : “Ada apa Cilaong ?” Lalu Cilaong menjawab ; “Saya menemani hambamu, orang Bone”. Lalu duduklah orang banyak menyembah kepada Manurunge yang berbusana serba kuning. Bertanyalah ManurungE kepada orang banyak : “Apa maksud kalian sehingga datang ke tempat ini ?”

Orang banyak menjawab: “Rara’ pale’ku Lapuang – awang lasuna pangemmerekku – masenne’ baba – mawampang lila – tekkumatula baliyo ada – apa utanri aju sengkona siasemmue” (Gemetar tanganku, Puang – tipis sekali nyaliku – tercabik mulutku – kaku lidahku – semoga kami tidak terkutuk menjawab pertanyaanmu – sebab kami telah melupakan yang menyamaimu).

“Kami semua ini adalah hambamu, orang Bone. Rajalah engkau dan kami semua adalah hambamu. Kami ingin diselimuti agar tidak kedinginan, dijaga agar tidak bercerai – berai, dinaungi agar tidak kepanasan, anginlah engkau dan kami semua daun kayu, kemana engkau bertiup kesana pula kami terbawa, kehendakmu dituruti, kata-katamu dibenarkan, walau anak isteri kami engkau mencelanya kamipun mencelanya, walau putih dan engkau mengatakan hitam, kamipun mengakuinya”

Manurunge menjawab : “Wahai orang Bone, kalau engkau tidak menipuku, akupun tidak akan menipumu, engkau tidak mencampakkan diriku, akupun tidak akan mencampakkanmu, engkau tidak mengingkari janji, akupun tidak akan mengingkari janji. Wariskan kepada anak cucumu dan akan kuwariskan kepada keturunanku. Barang siapa yang mengingkari janji, dialah yang termakan sumpah, tidak akan mendapat kebaikan keturunannya”.

Setelah terjadi kontrak sosial antara To Manurung dengan orang banyak, selanjutnya To Manurung dibuatkan SALASSA (rumah). To Manurung tersebut tidak diketahui namanya sehingga orang banyak menyebutnya Manurunge ri Matajang. Kalau datang di suatu tempat dan melihat banyak orang berkumpul dia langsung mengetahui jumlahnya, sehingga digelar Mata SilompoE.

Adapun yang dilakukan oleh Manurunge ri Matajang setelah diangkat menjadi Mangkau’ di Bone adalah MAPPOLO LETENG (menetapkan hak-hak kepemilikan orang banyak), meredakan pula segala bentuk kekerasan dan telah lahir yang namanya bicara (adat). ManurungE ri Matajang pula yang membuat bendera kerajaan yang bernama ” Woromporonge “.

Setelah hampir empat pariyama (35 tahun) memimpin orang Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan : ” Duduklah semua dan janganlah menolak anakku La Ummasa untuk menggantikan kedudukanku. Dia pulalah nanti yang melanjutkan perjanjian antara kita”.

Hanya beberapa saat setelah mengucapkan kalimat itu, kilat dan guntur sambar menyambar. Tiba-tiba Manurunge ri Matajang dan ManurungE ri Toro menghilang dari tempat duduknya. Salenrang dan payung kuning turut pula menghilang membuat seluruh orang Bone pada heran. Oleh karena itu diangkatlah anaknya yang bernama LA UMMASA menggantikannya sebagai Mangkau/Raja Bone selanjutnya.

Manurunge Ri Matajang, Raja Bone Ke-1 yang memerintah dari tahun 1330-1365 itu, tidak diketahui tentang siapa namanya dan dari mana asal usulnya, termasuk siapa nama ayah dan ibunya. Para penulis lontara’ melukiskan, bahwa  ” Nariaseng gare’ Manurung Nasaba Tenrisseng Apolengenna, Tenrissetto Inanna Amanna ” (Konon dikatakan manurung sebab tidak diketahui asal usulnya dan tidak diketahui ayah dan ibunya).

Manurunge ri Matajang kemudian kawin dengan ManurungE ri Toro yang bernama We Tenri Wale. Dari perkawinan itu lahirlah La Ummasa dan We Pattanra Wanuwa, lima bersaudara.

Adapun yang dilakukan oleh ManurungE ri Matajang setelah diangkat menjadi Mangkau’ di Bone adalah MAPPOLO LETENG (menetapkan hak-hak kepemilikan orang banyak), meredakan pula segala bentuk kekerasan dan telah lahir yang namanya bicara (adat). ManurungE ri Matajang pula yang membuat bendera kerajaan yang bernama Woromporonge.

Setelah hampir empat pariyama memimpin, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan : ” Duduklah semua dan janganlah menolak anakku La Ummasa untuk menggantikan kedudukanku. Dia pulalah nanti yang melanjutkan perjanjian antara kita”.

Hanya beberapa saat setelah mengucapkan kalimat itu, kilat dan guntur sambar menyambar. Tiba-tiba Manurunge ri Matajang dan ManurungE ri Toro menghilang dari tempat duduknya. Salenrang dan payung kuning turut pula menghilang membuat seluruh orang Bone pada heran. Oleh karena itu diangkatlah anaknya yang bernama LA UMMASA menggantikannya sebagai Mangkau/Raja Bone selanjutnya.