Home / Seni / Bedah Lagu Lojeng Pulaweng

Bedah Lagu Lojeng Pulaweng

PUNGANI APE’KU RI ALAUNA BONE
MARIO MARENNU RI LALELNG ATI
MEDDU’NI KASI SEDDI BUWANA
WADDAKKA RAKKA LAO MITTEI
KUWITTEI NAKU PARILOJENGNGI
RI LOJENG MPULAWENG MALEBBIKU
MONI PALE BOMBANG SILAJU-LAJU
BALI SUNGE TENRI BALI SUMANGE
LELE ADA TENRITA PANGADERENG
NARIYALA PAKKAWARU RI LINO

Syair dan Lirik Ciptaan : Mursalim, 04/04/2002

BEDAH LAGU : ” LOJENG PULAWENG ”
A. PENGANTAR
Lojeng Pulaweng dari bahasa Bugis yang terdiri dari dua kata yaitu Lojeng dan Pulaweng. Lojeng dalam bahasa Indonesia disebut Nampan atau Baki. Sedang Pulaweng berasal dari kata Ulaweng artinya emas (logam mulia). Sehingga Lojeng Pulaweng diartikan sebagai Nampan atau Baki yang bahannya terbuat dari emas. kemudian Penulis menyimbolkan nampan emas sebagai pangkuan.
Syair dan Lagu Lojeng Pulaweng yang diciptakan oleh Mursalim tahun 2002 awalnya merupakan sebuah puisi Bugis namun seiring dengan waktu penulis pada akhirnya membuatnya sebuah lagu hingga saat ini menjadi lagu wajib Lembaga Seni Budaya Teluk Bone (Teluk Bone). Di mana pada saat itu tahun 2006 lembaga ini belum mempunyai lagu wajib, sehingga penulis membuat syair Lojeng Pulaweng menjadi lirik Lagu yang dikenal hingga saat ini ” Lojeng Pulaweng “.
Lojeng Pulaweng memiliki makna mengisahkan perjuangan para laskar Bone yang gugur melawan tentara Belanda pada tahun 1905. Ribuan laskar Bone yang gugur di laut Teluk Bone pada saat itu. Penulis ibaratkan laskar yang gugur itu sebagi kapas yang putih bersih melambangkan kesucian.
Buih putih Teluk Bone diibaratkan Kapas putih bermakna laskar Bone yang tengah bertempur meregang nyawa yang rela mengorbankan jiwaraga demi membela tanah airnya Tanah Bone dari gempuran tentara kompeni Belanda.
Pada bait ke-3 Lojeng Pulaweng bermakna petuah leluhur, yaitu tempatkan lawan bicaramu di atas sebuah nampan emas, niscaya engakau berada di atasnya. Jika kita menghargai orang lain maka orang lainpun akan lebih menghargai kita.
B. MAKNA DAN BEDAH SYAIR LOJENG PULAWENG :
Bait I :
PUNGANI APE’KU RI ALAUNA BONE
MARIO MARENNU RI LALELNG ATI
MEDDU’NI KASI SEDDI BUANA
WADDAKKA RAKKA LAO MITTEI
Bait II
KUWITTEI NAKU PARILOJENGNGI
RI LOJENG PULAWENG MALEBBIKU
Bait III
MONI PALE BOMBANG SILAJU-LAJU
BALI SUNGE TENRI BALI SUMANGE
LELE ADA TENRITA PANGADERENG
NARIALA PAKKAWARU RI LINO
Bait I :
Pungani Apekku ri alauna Bone (Telah berbunga Kapasku di Timurnya Bone)
Penjelasan : Di sebelah Timur Bone hanya terdapat laut yang dikenal laut Teluk Bone. Dari jauh terlihat busa (buih putih) saling berkejaran, maka penulis meyimbolkan buih putih tersebut ibarat kapas.
Mario Marennu ri laleng ati ( Alangkah senang gembira di dalam hati)
Penjelasan : Siapapun jika melihat susuatu yang indah niscaya ia merasa senang tiada gundah gulana.
Meddu’ni kasi seddi buana ( jatuh satu buahnya )
Penjelasan : Buah yang jatuh diibaratkan laskar Bone yang gugur
Waddakkarakka lao mittei ( kujatuh bangun untuk mengambilnya )
Penjelasan : Berusaha sekuat tenaga untuk mengambil jasad laskar Bone yang gugur tersebut.
Bait II :
Kuwettei nakuparilojengngi (kurengkuh dan kudekap lalu kutaruh diatas nampan)
Penjelasan : Laskar yang gugur kurengkuh dan kudekap lalu kududuk bersimpuh memberikan penghormatan terakhir lalu kutempatkan di atas nampan emas atau pangkuan.
Rilojeng pulaweng malebbiku ( nampan emas yang kumuliakan )
Penjelasan : Lojeng Pulaweng diibaratkan pangkuan, laskar Bone yang gugur itu kudekap dan berharap arwahnya mendapat tempat layak di sisi Tuhan.
Bait III :
Monipale bombang silaju-laju (Biarkan gelombang saling berkejaran )
Penjelasan : Gelombang laut Teluk Bone berkejaran seolah ingin menjadi saksi.
Balisunge tenribali sumange ( Raga tak terbalas semangat dan jerih payah)
Penjelasan : Pengorbanan jiwa dan raga kesumah tanah Bone, tidak mendapat hak layak pada generasi. Hal ini merupakan pesan bagi generasi Bone selanjutnya untuk selalu menghargai jasa pendahulunya.
Lele ada tenrita pangadereng ( lain dikata lain perbuatan, awal runtuhnya peradaban )
penjelasan : ucapan yang dikeluarkan tidak sama dengan apa yg dilakukan. Tidak disangsikan lagi bahwa adanya perbedaan antara kata dan realita adalah salah satu hal yang sangat berbahaya bisa meruntuhkan peradaban. Niat, kata, dan perbuatan yang baik melambangkan manusia sesungguhnya.
Nariala pakkawaru rilino ( Dijadikan sebagai pagar dalam kehidupan di dunia)
Penjelasan : Satu kata dan perbuatan mestinya dijadikan sebagai pagar kehidupan. Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
C. PESAN DAN NILAI SYAIR LOJENG PULAWENG
Pesan diartikan sebagai suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh seseorang untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu. Kepribadian manusia terbentuk dan berakar pada tatanan nilai-nilai kesejarahan.
Seperti halnya dalam syair Lojeng Pulaweng menyampaikan pesan dan Nilai-nilai sejarah dan budaya hanya akan berkembang dan bertahan apabila didukung dan dihayati oleh individu serta terpelihara oleh generasi selanjutnya.
Perjuangan para pendahulu kita yang telah mengorbankan segalanya adalah rentang nilai tak terukur dan sesuatu yang harus diyakini kebenarannya serta mendorong generasi sekarang dan selanjutnya untuk mewujudkan apa yang telah diimpikan para pendahulunya.
D. PENUTUP
Hingga saat ini Lagu LOJENG PULAWENG selain sebagai lagu wajib Lembaga Seni Budaya Teluk Bone juga sering masuk kategori lagu diperlombakan pada event-event tertentu baik kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Bone.
Dibedah Oleh Mursalim
Tanggal : 6 April 2002

About admin

Check Also

Koleksi Lagu Bugis Bone

Lagu merupakan suara yang berirama. Lagu dapat dinyanyikan secara solo, berdua, bertiga ataupun beramai-ramai. Namun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *